Pages

 

Wednesday, October 17, 2012

Special Education for Special Children (Panduan Pendidikan Khusus Anak-anak dengan Ketunaan dan Learning Disabilities)

0 comments

Nama Buku     : Special Education for Special Children (Panduan Pendidikan Khusus Anak-anak dengan Ketunaan dan Learning Disabilities)
Penulis             : Jamila K.A Muhammad
Penerbit           : Hikmah (PT Mizan Republika) 2008

Siswa yang ada disekolah tidak hanya tergolong siswa yang normal saja namun kita akan menemukan siswa yang dikategorikan sebagai siswa luar biasa yang perlu diberi perhatian luar biasa pula. Terkadang guru terlalu cepat memberikan label “anak nakal, bodoh, tolol” padahal mungkin saja siswa tersebut kurang pendengaran sehingga sulit menangkap apa dijelaskan oleh guru, atau hyperaktif  sehingga suit untuk dapat duduk diam dan memusatkan perhatian lama-lama. Oleh karena itu memahami anak luar biasa beserta karakteristiknya sangat penting bagi seorang pendidik agar dapat memperlakukan dan menangani anak sebagaimana mestinya
Siapakah special children (anak-anak luar biasa) itu ?
Anak-anak luar biasa didefinisikan sebagai anak yang berbeda dari anak-anak biasa dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, kemampuan komunikasi, tingkah laku social, ataupun ciri-ciri fisik. Dahulu istiah anak luar biasa dini menggunakan istilah anak cacat namun istilah ini tidak digunakan lagi karena terlalu sensitive untuk anak-anak luar biasa. Perbedaan-perbedaan ini mengimplikasikan bahwa perlu ada modifikasi dalam aktifias-aktfitas sekolah ataupun pelayanan pendidikan khusus agar mereka mampu berkembang dengan kapasitas maksimal.
Menurut Kirk (1989), anak-anak hanya dianggap sebagai anak-anak luar biasa apabila memiliki kebutuhan untuk menyesuaikan program pendidikan. Akibat dari keadaan mereka ini menyebabkan mereka tidak dapat menerima pelajaran dengan cara biasa, ini menunjukan bahawa anak-anak dengan IQ yang tinggi (gifted) juga tergolong anak luar biasa.
Beberapa pendapat ahli tentang istilah-istilah atau sebutan khusus bagi anak luar biasa diantaranya, menurut Wolfgang (1992) menyebutkan beberapa sebutan ataupun istilah yang digunakan adalah tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, cerebral palsy, gangguan emosi, kurang daya pemahaman, autis dan perkembangan lambat. Farrel (2003) mengkategorikan anak-anak cacat yang memerlukan penjagaan, perhatian bahkan pendidikan khusus seperti berikut :
1.      Komunikasi dan interaksi, diantaranya masalah penuturan bahasa, masalah pembelajaran spesifik, seperti disleksia atau dyspraxia, Tunanetra, Autism, masalah pembalajaran sedang dan serius, kognitif dan pembelajaran
2.      Perkembangan tingkah laku, emosi dan interaksi social, diantaranya masalah emosi dan tingkah laku, menyendiri, tingkah laku kasar, mengganggu, hyperaktif dan kurang stabil, interaksi social tidak matang
3.      Sensorik dan fisik, diantaranya tunarungu dan tunanetra
Kirk (1989) juga mengetengahkan kategori berikut :
1.      Perbedaan intelektual, termasuk anak-anak superior dari segi intelektual dan anak-anak yang berkemampuan rendah
2.      Perbedaan komunikasi, termasuk anak-anak dengan masalah pembelajaran ataupun  ketidakmampuan dalam berbahasa dan penuturan
3.      Perbedaan sensorik, termasuk anak-anak dengan ketidakmampuan pendengaran dan penglihatan
4.      Perbedaan tingkah laku, termasuk anak-anak yang mengalami masalah tingkah laku ataupun emosi
5.      Keadaaan kecacatan serius dan memiliki banyak kecacatan sekaligus
6.      Perbedaan fisik, termasuk kecacatan yang tidak berkaitan dengan organ sensorik tetapi menghambat perkembangan fisik dan mobilitas
Akta Pendidikan 1996 bagian 312 (Farrel, 2003) menyatakan anak-anak yang diperkirakan memerlukan bantuan khusus jika mereka mempunyai masalah dalam hal pembelajaran yang memerlukan pendidikan khusus terhadap mereka, diantaranya anak yang :
1.      Memiliki masalah pembelajaran yang serius dan signifikan dibandingkan anak-anak yang sebaya dengannya
2.      Mempunyai kecacatan yang menghalanginya untuk menggunakan kemudahan pendidikan yang digunakan oleh anak-abak sebaya dengannya
3.      Berada di bawah umur wajib sekolah dan memiliki kecatatan kategori (2) diatas.
Tidak dimungkiri bahwa mengkategorikan atau mengecap seseorang dapat meyebabkan perasaan negative bukan saja akan muncul rasa rendah diri  tetapi hal itu juga akan menimbulkan diskriminasi terhadap kelompok anak tersebut Namun, pengkategorian ini harus dilakukan agar penanganan  khusus dapat dilakukan untuk anak-anak luar biasa berdasarkan kebutuhannya. Disamping itu kategori dan cap juga dapat membantu dalam mengenali factor yang menyebabkan kecacatan dan masalah yang disebabkannya. Menurut Aird (2001), informasi tentang kecacatan dapat digunakan untuk mengenali hal-hal tentang ketidakmampuan anak-anak dalam hal implikasi terhadap pengajaran, pembelajaran, penjagaan dan perawatan juga organisasi sekolah dalam hal kurikulum, tenaga pengajar, lingkungan, dan diskusi dalam kelompok. Bila gejala kecatatan diketahui lebih awal dan tindakan dini dapat dijalankan impikasi kecacatan dan kesulitan yang dihadapi akan berkurang dibandingkan dengan kecatatan yang lambat diketahui lebih awal.
Kebutuhan mereka tidak dapat diektahui degan pasti, masalah mereka lebih jelas saat dimulainya pelajaran akdemik dan saat merka harus berinteraksi dengan lingkungan sosial dan peraturan yang ada, kebanyakan anak luar biasa memiliki prestasi akademik yang rendah dan hal ini sering dikaitkan dengan adanya rasa malas, tidak produktif, enggan bekerjasama, dan kurangnya etika pergaulan (Wallace dan Kauffman 1996). Melalui pendekatan individual anak-anak yang memerlukan bantuan khusus dapat dikenali dengan menggunakan proses penilaian berikut :
1.      Perjelas dan dokumentasikan tingkah laku anak-anak menggunakan berbagai sumber dan metode
2.      Bandingkan dengan perkembangan yang seharusnya dialami oleh anak-anak normal
3.      Selalu berkomunikasi dengan keluarga anak
4.      Teliti, bicarakan dan tafsirkan informasi didalam lingkungan kelas yang mungkin dapat membantu.
Pengetahuan tentang ciri-ciri kebutuhan khusus anak-anak menentukan implikasinya terhadap hal-hal berikut :
1.      Bentuk dan muatan kurikulum untuk memaksimalkan potensi pembelajaran anak-anak dan menjamin bahwa yang diajarkan adalah relevan dengan kebutuhan anak-anak
2.      Pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan dalam kemahiran yang diperlukan harus ada pada semua pihak  yang terlibat dalam pendidikan untuk memastikan setiap aktivitas yang dijalankan efektif bagi pemenuhan kebutuhan anak
3.      Criteria lingkungan yang dibentuk dapat meminimalkan kesan kekurangan terhadap ketidakmampuan mereka dan memberi suasana lingkungan yang aman, terjamin, dan mendorong perkembangan mereka
4.      Penggunaan sumber daya dan bantuan untuk mendorong anak-anak memiliki pemahaman terhadap pembelajaran mereka
5.      Rangkaian kerja dengan orangtua, yayasan pendukung dan organisasi sukarela juga diperlukan untuk memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi secara keseluruhan
Terkadang kasus yang terjadi di sekolah berasal dari anak-anak yang special yang diterangkan diatas, bagi dunia bimbingan dan konseling merupakan suatu kewajiban bagi guru BK untuk memahami anak apa adanya sebagaimana tertuang dalam standar kompetensi konseor yang pertama yaitu memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani dengan mengacu pada prinsip BK yaitu bimbingan untuk semua baik siswa yang normal maupun siswa yang special.
Bimbingan dan konseling dalam melayani konseli tidak akan bertindak terburu-buru atau tidak beraturan, justru bimbingan dan konseling adalah profesi yang profesional dengan mengedepankan data dan fakta, oleh karena itu demi tercapainya hal tersebut maka bimbingan dan konseling menggunakan metode-metode tertentu dalam menangani kasus tersebut diantaranya adalah studi kasus.
Menurut Dewa Ketut Sukardi Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Tim : 2010) http://timbk11unj.blogspot.com/2010/01/studi-kasus-bimbingan-dan-konseling.html. Studi kasus dapat diartikan juga sebagai suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada guru pembimbing (konselor) sebagai orang yang mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh konselor kemudian dinvertaris dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk diinterpretasi masalah dan hambatan individu dalam penyesuaiannya. 
Studi Kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang mendalam, konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut. (Tim : 2010) http://timbk11unj.blogspot.com/2010/01/studi-kasus-bimbingan-dan-konseling.html
Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental. (Tim : 2010) http://timbk11unj.blogspot.com/2010/01/studi-kasus-bimbingan-dan-konseling.html
Alat / Metode Pengumpulan data dalam studi kasus
Terdapat banyak metode yang dapat dipakai dalam mengumpulkan data untuk kepentingan identifikasi masalah siswa. Yaitu ;
1. kartu pribadi
2. angket
3. wawancara informatif
4. buku rapor
5. home visit
6. testing
7. rating scale
8. otobiografi
9. sosiometri
10. studi dokumentasi
11. Daftar Cek Masalah (DCM)
Read more...