Pages

 

Senin, 04 Maret 2013

MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PRA SEKOLAH

0 komentar

Anak usia dini adalah anak dengan rentang usia 0-6 tahun, masa perkembangan tahap ini merupakan masa yang sangat penting bagi perkembangan hidup manusia, masa ini seringkali disebut dengan  masa keemasan atau “The Golden Age” karena terjadi perkembangan yang sangat pesat. Begitu pentingnya masa ini pemerintahpun menggalakkan program-program untuk memfasilitasi perkembangan anak usia dini seperti didirikannya pos PAUD si setiap RW, pemberian bantuan pada pembentukan Kelompok Bermain dll.
Melalui lembaga pra-sekolah seperti kelompok bermain atau taman kanak-kanak, anak akan banyak belajar bersosialisasi, mengenal warna, mengenal bentuk, dll. Perkembangan pada fase ini tidak selamanya akan mulus, seringkali ditemukan banyak permasalahan yang dihadapi anak dan orangtua salah satunya adalah permasalahan yang timbul ketika anak mulai masuk lebaga PAUD, pada umumnya ketika di awal anak masuk ke lembaga PAUD anak tidak mau ditinggal oleh ibunya mereka ingin ditemani dari awal masuk kelas sampai pulang namun lambat laun seiring interaksi dengan teman sebayanya tambah dekat dengan bantuan guru maka secara berangsur anak tidak lagi meminta untuk ditemani, lalu bagaimana ketika anak yang lain sudah tidak ditemani dikelas oleh ibunya sementara ada anak yang sudah hampir satu tahun di lembaga PAUD masih tidak mau ditinggal oleh ibunya. Ini merupakan salah satu permasalahan pada perkembangan anak usia pra sekolah.
Anak yang dapat menyelesaikan tugas perkembangannya di masa ini akan mudah dalam menuntaskan tugas perkembangan selanjutnya begitupun sebaliknya kemandirian sebagai salah satu tugas perkembangan anak jika tidak ditangai sejak dini maka akan berpengaruh pada perkembangan dimasa yang akan datang khususnya pada aspek kemandirian. Anak yang masih berperilaku dependen dimasa depan akan memiliki kecenderungan tidak mandiri bahkan sampai pada gangguan psikologis “Dependency” oleh karena itu dibutuhkan upaya-upaya dalam menangani hal tersebut.
Kemandirian merupakan kemampuan seseorang dalam kemampuan fisik, percaya diri, bertanggung jawab, disiplin, pandai bergaul, mau berbagi dan mengendalikan emosi.
Menurut Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M.Si., dosen Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia Jakarta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :
1.      Faktor bawaan.; Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain
2.      Pola asuh.; Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.
3.      Kondisi fisik anak; Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.
4.      Urutan kelahiran; Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya http://mamahebat.wordpress.com/2011/01/05/membentuk-kemandirian-anak/ Nety Arbya on: 5 January 2011
Segala kekhawatiran lingkungan yang berlebihan dari orangtua kepada anaknya akan menimbulkan ketidakmandirian pada anak, sebagai contoh anak tidak dibiarkan mandi sendiri karena khawatir tidak bersih, orangtua melarang anaknya makan sendiri karena takut makanannya tumpah, selain itu orangtua yang sering membatasi dan melarang secara berlebihan anaknya berbuat sesuatu seperti setiap anak beraktifitas orangtua sering mengatakan “jangan” tanpa diikuti argumentasi yang jelas, pola doktrin seperti ini membuat anak ragu-ragu untuk mengembangkan kreatifitasnya sehingga anak menjadi ketergantungan terhadap orangtua dan tidak mandiri, terakhir adalah kasih sayang orangtua yang terlalu berlebihan terhadap anaknya akan menimbukan ketidakmandirian pada anak misalnya karena sangat saying apapun keinginan anak dipenuhi, bahkan karena protektifnya anak dibiarkan saja “duduk manis” sementara orangtua atau pembantunya sibuk melayaninya. Pendidikan dengan menjadikan anak sebagai raja kecil atau “the little king” dalam rumah merupakan penyebab anak tidak mandiri (Cahyati : 2010) tersedia http://m.ibudanbalita.com
Menurut Dra. Tjut Rifameutia Ali-Napis, M.A, dosen Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia, bantuan berlebihan bisa mensugesti anak bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu sendiri. Ada dua alasan yang menyebabkan orang tua cenderung memberikan bantuan dan perlindungan berlebihan. Yang pertama karena khawatir. Padahal, orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi anak untuk mencoba kemampuannya.
Bila perlindungan berlebihan berlanjut terus sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka anak akan selalu mengharapkan bantuan orang lain setiap kali ia menghadapi masalah. Alasan kedua, karena orang tua tidak sabar. Ketimbang menunggu anak berusaha memakai sepatunya sendiri, orang tua cenderung lekas membantu agar cepat selesai. Akibatnya, anak tidak memperoleh kesempatan untuk mencoba. Belajar mandiri memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua. Hasilnya akan nampak bila orang tua rajin dan konsisten memberikan stimulus. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui suatu tahapan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia 6 tahun tidak bisa begitu saja dapat makan sendiri bila tidak pernah diberi kesempatan memegang sendok sejak usia 18 bulan. Oleh karena itu, latihan kemandirian mesti dimulai sejak dini sesuai dengan usianya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan sekolah untuk menempa anak menjadi mandiri, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sekolah.
Menurut Sholihatul (2012) tersedia : http://blog.elearning.unesa.ac.id/afiyatus-sholihatul-f/kemandirian-anak-usia-dini ada beberapa ciri anak yang mandiri menurut ukuran anak usia dini, diantaranya adalah :
1.       Anak dapat melakukan segaa aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa
2.       Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri di perolehnya dari melihat perilaku atau perbatan orang-orang di sekitarnya
3.       Anak dapat bersosialisasi dnegan oranglain tanpa perlu di temani orang tua
4.       Anak dapat mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam menanamkan kemandirian pada anak sejak dini sebagai berikut :
1.      Kepercayaan ; suasana sekolah yang terasa asing dan berat bagi anak karena harapan orangtua dan guru agar menjadi anak yang baik, maka perlu tanamkan rasa percaya diri anak dengan memberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang mampu di lakukan sendiri
2.      Kebiasaan ; dengan memberikan kebiasaan yang baik kepada anak sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya, misalnya membuang sampah pada tempatnya, melayani dirinya sendiri, mencuci tangan, meletakkan mainan pada tempatnya, dll.
3.      Komunikasi ; komunikasi merupakan hal penting dalam menjelaskan tentang kemandirian kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami
4.      Disiplin; merupakan proses yang dilakukan oleh pengawasan dan bmbngan orang tua dan guru yang konsisten. Dengan mengajarkan disiplin kepada anak sejak dini, berarti kita telah melatih anak untuk mandiri di masa datang dimana kunci kemandirian anak adalah sebenarnya ada di tangan orang tua dan guru.
Shilihatul juga memapakan jenis-jenis kemandirian diantaranya a) kemandirian social dan emosi, b) kemandirian fisik dan fungsi tubuh, c) kemandirian intelektual, d) menggunakan lingkungan untuk belajar, e) membuat keputusan dari lingkungan dan f) refleksi dalam belajar
Kemandirian, seperti seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baikjika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak... Latihan kemandirian yang diberikankepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. misalnya untuk anak-anak usia 3-4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkana anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan tiap kali selesai bermain, dll tersedia : http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2193113-proses-perkembangan-kemandirian/#ixzz2AjhxkiOV.
Berbagai macam permainan petualangan dapat diperkenalkan pada anak, baik yang bersifat aktif maupun pasif. Permainan aktif berfungsi untuk melatih motorik kasar karena lebih mengandalkan aktifitas fisik anak. Flying fox, panjat dinding jala, jembatan titian, lompat ala tarzan, kemah-kemahan dll adalah jenis permainan petualangan yang dapat kita gunakan untuk merangsang motorik kasar anak. Permainan ini banyak kita temukan pada arena outbond. Dan sebenarnya juga bisa kita ciptakan sendiri diarea pekarangan rumah atau lahan kosong disekitar tempat tinggal. Tetapi aktifitas yang melibatkan fisik seperti ini, pengawasan orangtua sangat mutlak diperlukan.
Permainan pasif dapat kita artikan sebagai bentuk permainan yang mengandalkan pikiran dan kesabaran anak. Dalam permainan ini si kecil digiring untuk berpikir dan mengambil sebuah keputusan agar dapat memecahkan masalah yang ada. Permainan ini dapat berupa game imajiner yang biasanya terdapat pada media computer. Misalnya permainan (game) kursus membuat kue dengan beberapa tingkat keahlian atau level. Contoh lain adalah permainan stategi perang dimana anak diajak berfikir cara menghadapi serangan lawan sehingga akhirnya dia bisa menang.
Serial televisi Si Bolang, merupakan edukasi yang baik untuk melatih anak agar mandiri. Dimana didalam serial itu, anak diberi contoh permainan-permainan yang bersifat petualangan. Dididik untuk menghadapi masalah dan menyelesaikannya bersama-sama. Pendampingan orang tua dibutuhkan agar si kecil bisa bertanya ketika mereka tidak mengerti cerita yang disampaikan. Lebih baiknya lagi jika si kecil di ajak me-review tentang cerita-cerita itu agar kita tahu sejauh mana daya serapnya atas apa yang baru dilihatnya.
Bentuk petualangan lainnya adalah seperti berkebun. Dimulai dari memperkenalkan si anak dengan berbagai macam tanaman, menanam tanaman di halaman rumah dan sekaligus merawat atau menjaganya. Memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menanam dan sekaligus merawatnya akan melatih kesabaran dan tanggung jawab si kecil.
Kegiatan petualangan memang lebih tepat dilakukan di area terbuka dengan suasana alam yang masih segar. Tempat seperti ini biasa kita temui di daerah pedesaan. Namun hal ini juga bisa di lakukan di daerah perkotaan. Halaman rumah yang umumnya sempit bisa menjadi arena permainan jika kita kreatif menata untuk memberi peluang mereka mengembangkan diri dan meningkatkan kemandirian. Tersedia : http://bundaarsya.wordpress.com/2011/06/23/mendidik-kemandirian-anak-usia-dini/


DAFTAR PUSTAKA
Arsya, Bunda (2011) Mendidik Kemandirian Anak. [online]. Tersedia : http://bundaarsya.wordpress.com/2011/06/23/mendidik-kemandirian-anak-usia-dini/ (29Oktober 2012)
Sholihatul (2012). Kemandirian Anak Usia Dini. [online]. Tersedia : http://blog.elearning.unesa.ac.id/afiyatus-sholihatul-f/kemandirian-anak-usia-dini (29 Oktober 2012)
Proses Perkembangan Kemandirian. [online]. Tersedia : http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2193113-proses-perkembangan-kemandirian/#ixzz2AjhxkiOV. (29 Oktober 2012)
Cahyati : (2010). Penyebab Anak Tidak Mandiri. [online]. Tersedia http://m.ibudanbalita.com. (31 Oktober 2012)
Arbya, Nety (2011). Membentuk Kemandirian Anak. [online]. Tersedia : http://mamahebat.wordpress.com/2011/01/05/membentuk-kemandirian-anak/ (29 Oktober 2012)

0 komentar:

Poskan Komentar