Pages

 

Rabu, 04 Mei 2011

TEORI KEPRIBADIAN “CARL R. ROGERS”

0 komentar
A. Biografi Carl Ransom Rogers (1902-1987)
Carl rogers lahir lahir pada tangga 8 Januari 1902 dSi Oak , Illionis, sebuah daerah pinggiran Chicago, sebagai anak keempat dari eman bersaudara. Ayahnya adalah insinyur teknik sipil yang sukses sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga pemeluk Kristen yang taat. Dia langsung masuk SD karena sudah bisa membaca sebelum usia TK.
Saat Carl berusia 12 tahun, keluarganya pindah ke sebuah daerah pertanian 30 mil sebuah timur Chicago, dan ditempat inilah dia menghabiskan masa remajanya. Dengan pendidikan yang keras dan kegiatan yang padat, kepribadian Carl menjadi adak terisolasi, independen dan sangat disiplin.
Dia masuk Universitas Wisconsin dan mengambil bidang pertanian. Kemudian dia beralih mempelajari agama dan bercita-cita pendeta. Saat itu, dia juga terpilih sebagai salah seorang dari 10 mahasiswa yang akan menghadiri “Konferensi Mahasiswa Kristen Sedunia” di Beijing selama 6 bulan. Dia menceritakan bagaimana pengalaman bari ini memperluas pemikirannya dan dia mulai meragukan beberapa pandangan yang menjadi dasar agama.
Setelah lulus dia menikah dengan Hellen Elliot (bertentangan dengan keinginan orangtuanya), yang kemudian pindah ke New York City dan mengajar di Union Theological Seminary, sebuah intiusi keagamaan liberal yang cukup terkenal kala itu. Suatu kali, dia menyarankan agar mahasiswa mengadakan diskusi kelas dengan tema “Kenapa Saya Mau Jadi Pendeta?”. Carl mengatakan bahwa sebagian besar pendeta kelas tersebut “menganggap alasan mereka sudah berdasarkan teks-teks keagamaan”.

Kehilangan keyakinan terhadap agama tentu saja merupakan persoalan psikologis. Oleh karena itu, rogers pun kemudian masuk program psikolofi klinis di Columbia University dan menerima gelah Ph. D tahun 1931. Dia mulai melakukan praktik di Rocherster Society for the Privention of Cruelty to Children (Masyarakat Rochester Mencegah Kekerasan Terhadap Anak-anak) di klinik ini, dia mempelajari teori Otto Rank dan teknik-teknik terapi yang kemudian menjadi langkah awal bagi pengembangan pendekatan-pendekatannya sendiri.
Dia menjabat professor penuh di Negara Bagian Ohio pada tahun 1940. Tahun 1942, dia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychoterapy. Kemudian, tahun 1945, dia diundang untuk mendirikan pusat konseling di University of Chicago. Saat bekerja di sinilah bukunya yang sangat terkenal Client-Centered Therapy diluncurkan, yang memuat garis besar teorinya.
Tahun 1957, dia kembali mengajar di almamaternya. University of Wisconsin. Sayangnya, saat itu terjadi konflik internal dalam fakultas psikologi dan Rogers merasa sangat kecewa dengan system pendidikan tinggi yang dia tangani. Tahun 1964, dengan senang hati dia menerima posisi sebagai peneliti di La Jolla, California. Di sini dia memberikan terapi, ceramah-ceramah, dan menulis karya-karya ilmiah sampai ajal menjemputnya tahun 1987.

BAB II
ISI
A. Konsep Teori Rogers
Rogers adalah salah satu dari banyak ahli yang mengembangkan teori humanistic dan menentang teori-teori sebelumnya yaitu psikoanalisis dan behavioristik, orang-orang humanis memandang kedua teori sebelumnya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia).
teori humanistic dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, kekuatan humanistic ini memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistic dapat diartikan sebagai “ Orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya”. Para ahli humanistic memiliki pandangan yang optimistic terhadap hakikat manusia. Mereka meyakini bahwa:
1. Manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengembangkan diri;
2. Manusia memilki kebebasan untuk merancang atau mengembangkan tingkah lakunya, dalam hal ini manusia bukan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkungan; dan
3. Manusia adalah makhluk rasional dan sadar, tidak dikuasai oleh ketidaksadaran, kebutuhan irrasional, dan konflik.
Teori Rogers sangat bersifat klinis, karena didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun tentang bagaimana seharusnya seorang terapis menghadapi seorang kliennya. Meskipun terdapat sedikit persamaan dengan Freud, akan tetapi ada perbedaan karena dia menganggap manusia pada hakikatnya baik atau sehat-setidaknya, tidak jahat atau sakit. Dengan kata lain, dia memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan dan persoalan-persoalan kemanusiaan lainnya, sebagai penyimpangan dari kecenderungan alam. Perbedaan lainnya adalah teorinya relatif lebih sederhana ketimbang teori Freud.
1. Rincian Teori
a. Aspek-aspek kepribadian
Perhatian utama Rogers adalah kepada perkembangan atau perubahan, maka tidak menekankan kepada struktur kepribadian, walaupunbegitu dia mengajukan dua konstruk pokok dalam teorinya, yaitu organisme dan self.
1) Organisme
Rogers memandang bahwa setiap makhluk hidup tahu apa yang terbaik baginya. Evolusi telah melengkapi kita dengan pancaindra, selera dan kemampuan untuk memilih apa yang kita butuhkan. Saat kita lapar, kita akan mencari makanan-bukan sembarang makanan, tapi makanan yang rasanya enak. Makanan yang rasanya tidak enak biasanya membawa penyakit. Sedangkan apa yang enak da apa yang tidak enak telah ditunjukan dengan baik oleh proses evolusi kita. Inilah yang disebut Rogers dengan proses penilaian organismik.
Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (ekternal world). totalisan pengalaman, baik yang disadari maupun yang tidak disadari membangun medan fenomenal (fenomenal field). Perilaku itu bukan fungsi (pengaruh) dari realitas eksternal, atau stimulus lingkungan, tetapi realitas subjektif atau medan fenomenal.
Di antara berbagai hal yang kita nilai berdasarkan insting adalah perhatian positif. Yang dimaksud Rogers dengan istilah ini adalah perasaan-perasaan seperti cinta, senang, atensi, kepedulian, dan lain sebagainya. Bayi, misalnya tentu sangat memerlukan cinta dan perhatian, bahkan besar kemungkinan bayi itu akan tewas kalau ini tidak ada. Mereka akan gagal tumbuh dan berkembang, artinya menjadi apa yang seharusnya.
Hal lain yang kita kenali secara instingtif, dan ini hanya dimiliki manusia, adalah perhatian positif terhadap positif terhadap diri sendiri, yaitu kehormatan, rasa bangga, citraan yang baik pada diri sendiri, dan lain sebagainya. Kita memperoleh perhatian positif terhadap diri sendiri ini dengan merasakan perhatian positif yang diberikan orang lain kepada kita selama masa-masa pertumbuhan. Tanpa adanya perhatian terhadap diri sendiri ini, kita akan merasa kecil, tak daya dan tak berguna, dan sekali lagi kita akan gagal menjadi apa yang seharusnya.
Masyarakat juga mengajarkan pada kita untuk selalu berada dalam syarat-syarat yang diperlukan. Dalam masa pertumbuhan, orangtua, guru, teman, media, dan lain-lain hanya mau mengabulkan keinginan kita kalau kita mampu menunjukan bahwa kita “baik dan patut”. Mereka memberikannya bukan karena kita memang memerlukanya.
b) Self
Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan “self concept” (konsep diri). rogers mengartikannya sebagai persepsi tentang karakteristik “I” atau “me” dan persepsi tentang hubungan “I” atau “me” dengan orang lain atu berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut”. Diartikan juga sebagai “Keyakinan tentang kenyataan, keunikan dan kualitas tingkah laku diri sendiri”. Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri, seperti “saya cantik”, “saya seorang pekerja yang jujur”, dan “saya seorang pekerja yang rajin”
Perhatian positif yang tertuju pada “syarat-syarat” ini disebut Rogers dengan perhatian positif kondisional. Karena kita memang memerlukan perhatian positif, maka syarat-syarat ini sangat penting dan kita berusaha untuk selalu terikat padanya, bukan karena penilaian organismik atau kecenderungan aktualisasi yang ada dalam diri kita, akan tetapi karena masyarakat, terlepas apakah kita memang memiliki kepentingan terhadapnya atau tidak. Seorang anak yang “patuh” belum tentu seorang anak yang bahagia atau memiliki kesehatan mental yang baik.
Hubungan antara “self concept” dengan organism (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu “congruence” atau “incongruence”. kedua kemungkinan hubungan ini menentukan perkembangan kematangan penyesuaia (adjustment), dan kesehatan mental (mental health) seseorang. apabila antara “self concept” dengan organisme terjadi kecocokan maka hubungan itu disebut kongruen, tetapi apabila terjadi diskrepansi (ketidak cocokan) maka hubungan itu disebut inkongruen
Menurut Rogers kepribadian yang Berfungsi Baik mencakup kualitas-kualitas berikut ini :
1) Terbuka terhadap Pengalaman.
Kualitas ini adalah kebalikan dari sikap bertahan. Orang yang memiliki kualitas ini memiliki persepsi yang akurat tentang pengalamannya tentang dunia, termasuk perasaannya sendiri.
2) Kehidupan Eksistensial.
Yaitu kehidupan di sini dan sekarang. Rogers, yang sangat ingin menyatu dengan realitas, menegaskan bahwa kita tidak hidup di masa lalu atau masa yang akan datang – yang pertama telah berlalu, sementara yang kedua belum terjadi.
3) Keyakinan organismik.
Kita harus membiarkan diri kita dituntun oleh proses penilaian organismik. Kita harus yakin pada diri sendiri, melakukan apa yang menurut kita benar, wajar dan alamiah.
4) Kebebasan eksistensial.
Rogers menganggap persoalan apakah manusia bebas atau tidak sebagai sesuatu yang tidak relevan. Kita merasa memiliki kebebasan seolah-olah kita benar-benar memilikinya.
5) Kreativitas.
Orang yang kepribadiannya berfungsi baik, selalu terikat dengan aktualisasi, dengan sendirinya merasa tanggung jawab untuk ikut serta dalam aktualisasi orang lain, termasuk kehidupan itu sendiri.
b. Dinamika Kepribadian
Rogers meyakini bahwa manusia dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasikan, memelihara, dan meningkatkan dirinya. Kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai kebutuhan dasar jiwa manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Manusia juga memiliki kebutuhan lainnya yaitu “positive regard of other” dan “self regard”.
Dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisik seperti makan dan minum, serta mempertahankan organism dari serangan luar, maka motif aktualisasi diri memelihara organism agar tetap survive. Disamping itu juga motif aktualisasi diri ini berfungsi untuk mendorong perkembangan manusia melalui diferensial organ-organ fisik, perkembangan fungsi-fungsi psikis, dan pertumbuhan seksual masa remaja.
c. Perkembangan Kepribadian
Rogers tidak mengemukakan tahapan (stages) dalam perkembangan kepribadian. Dia lebih tertarik pada cara-cara oranglain (orangtua) menilai anak. jika seorang orangtua tidak mencurahkan “positive regard” (penerimaan dan cinta kasih) bahkan menampilkan sikap penolakan terhadap anak, maka kecanderungan kecenderungan bawaan anak untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi terhambat. Anak mempersepsi penolakan orangtua terhadap tingkah lakunya sebagai penolakan terhadap perkembangan “self concept” nya yang baru. apabila hal itu sering terjadi, anak akan mogok untuk berusaha mengaktualisasikan dirinya.
Secara ideal, anak mendapatkan kasih sayang dan penerimaan yang cukup pada setiap saat dari orang lain (orang tua). Kondisi ini disebut “unconditional positive regard”. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa cinta kasih ibu kepada anak tidak diberikan secara conditional, tetapi secara bebas dan penuh.
Mengingat pentingnya memperoleh kepuasan akan kebutuhan “positive regard” , khususnya pada masa anak, maka seseorang akan menjadi sensitive akan sikap dan tingkahlaku oranglain. Melalui penafsiran terhadap reaksi yang diterima dari oranglain, seseorang mungkin mengubah atau memperhalus onsep dirinya. Hal ini menunjukan, bahwa perkembangan konsep diri seseorang dipengaruhi juga oleh upayanya mengininternalisasikan sikap-sikap oranglain.
Secara berangsur-angsur “positive regard” akan menjadi lebih mempribadi daripada yang berasal dari orang lain. Kondisi ini olrh Rogers dinamakan “positive self regard” Jika orang tua tidak mencurahkan “positive regards” (penerimaan, dan cinta kasih)bahkan menampilkan sikap penolakan terhadap anak, maka kecenderungan bawaan anak untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi terhambat. Secara Ideal ,anak mendapatkan kasih sayang dan penerimaan yang cukup pada setiap saat dari orang lain (orang tua).Kondisi ini disebut “unconditional Positive regard”.Kondisi ini mengimplikasikan bahwa cinta kasih ibu kepada anak tidak diberikan secara kondisional, tetapi secara bebas dan penuh. Perkembangan dari “positive regard” ke “positive self regard” dipengaruhi oleh kondisi yang mengembangkan perasaan berharga(conditions of worth).
Menurut Rogers “fully functioning person” merupakan tujuan dari seseorang. Orang yang telah mencapai “fully functioning person” ini memiliki karakteristik pribadi sebagai berikut :
1. Memiliki kesadaran akan semua pengalaman. Tidak ada pengalaman yang ditolak, semuanya disaring melalui self.
2. Mengalami kehidupan secara penuh dan pantas pada setiap saat.berpartisipasi dalam kehidupan bukan sebagai pengamat.
3. Memiliki rasa percaya kepada dirinya sendiri,seperti dalam mereaksi atau merespon sesuatu. Dalam arti, dia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan data pengalaman yang diperoleh.
4. Memiliki perasaan bebas untuk memilih tanpa hambatan apapun.
5. Menjalani kehidupan secara konstruktif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan, serta berpikir kreatif.

Rogers Memformulasikan teori kepribadiannya dalam 19 proposisi,yaitu sebagai berikut :
Proposisi 1 : Setiap individu berada dalam perubahan dunia pengalaman yang secara terus menerus berubah, dan dia sebagai pusatnya.
Proposisi 2 : Organisme mereaksi medan pengalaman sebagaimana medan itu dialami dan dipersepsinya.
Proposisi 3 : Organisme mereaksi medan fenomena sebagai keseluruhan yang terorgnisasi (organized whole)
Proposisi 4 : Organisme memiliki satu kecenderungan atau motif dasar, yaitu mengaktualisasikan, memelihara, dan mengembangkan “self”.
Proposisi 5 : Tingkah laku merupakan usaha organisme untuk mencapai tujuan yaitu memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
Proposisi 6 : Emosi meyertai dan memfasilitasi pencapaian tujuan tingkah laku. Dalam hal ini kepribadian mencoba mengintegrasikan dua jenis emosi dalam tingkah laku; yang menyenangkan (seperti perasaan lega) dan yang tidak menyenangkan (seperti marah).
Proposisi 7 : Cara yang paling baik untuk memahami tingkah laku adalah melalui kerangka berpikir (frame of reference) individu itu sendiri.
Proposisi 8 : Sebagian dari medan persepsi berangsur-angsur terdiferensiasi menjadi “self”
Proposisi 9 : Struktur “self” terbentuk sebagai hasili nteraksi dengan lingkungan dan evaluasi terhadap orang lain. Pengalaman bersama orang lain membantu berkembangnya “self”. Dalam hal ini pengaruh orang tua sangat esensial dalam tahap strukturisasi “self “ ini.
Proposisi 10 : Nilai-nilai terkait dengan pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian struktur “self”, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintrojeksi atau diambil dari orang lain.
Proposisi 11 : Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu mungkin (a) dilambangkan (disadari), dipersepsi, dan diorganisasikan kedalam “self”’, (b) diabaikan karena dipersepsi tidak berhubungan dengan struktur “self”, dan (c) ditolak atau dilambangkan secara palsu karena pengalaman tidak konsisten atau tidak sesuai dengan struktur “self”.
Proposisi 12 : Cara-cara berperilaku yang diadopsi oleh organism adalah yang konsisten (selaras) dengan “self consept”. Self memelihara tingkah laku yang konsisten dengan gambaran yang dimilikinya. Dengan demikian untuk mengubah tingkah laku individu adalah dengan mengubah konsep dirinya.
Proposisi 13 : Tingkah laku, dalam hal-hal tertentu disebabkan atau didorong oleh pengalaman atau kebutuhan organism yang tidak dilambangkan. Tingkah laku ini tidak selaras dengan “self”, sehingga tidak diakui oleh individu yang bersangkutan. Biasanya tingkah laku demikian bersifat di luar control “self”, seperti : “Saya terpaksa melakukannya”, dan “Saya tidak terpaksa melakukannya”, dan “Saya tidak bermaksud demikian”.
Proposisi 14 : Malasuai psikologis (psychological maladjustment) terjadi ketika organism menolak untuk menyadari pengalaman sensoris dan yang mendalam, yang tidak dilambangkan atau diorganisasikan kedalam struktur “self”. Kondisi ini menjadi dasar atau potensi bagi terjadinya tegangan psikologis (psychological tension). Dalam hal ini kepribadian tidak dapat mengaktualisasikan dirinya, jika pengalamannya tidak serasi dengan dirinya yang nyata (real self).
Proposisi 15 : Penyesuaian psikologis (psychological adjustment) terjadi apabila semua pengalaman organisasi itu diasimilasikan pada taraf lambang (sadar) kedalam hubungan yang serasi dengan konsep diri. Ketegangan dari dalam (inner tension) tereduksi ketika kepribadian memiliki perasaan baru tentang dirinya.
Proposisi 16 : Setiap pengalaman yang tidak serasi dengan struktur “self” dipersepsi sebagai suatu ancaman, dan semakin kuat persepsi itu akan semakin terorganisasi struktur “self” untuk memelihara (mempertahankan) diri. Peristiwa-peristiwa (pengalaman-pengalaman) yang mengancam kepribadian itu menjadi kaku. Oleh karena itu self membentuk pertahanan terhadap pengalaman yang mengancam tersebut dengan menolaknya masuk ke kesadaran.
Proposisi 17 : Dalam kondisi yang tidak ada ancaman bagi struktur self, pengalaman yang tidak serasi itu dipersepsi, diuji, dan direvisi oleh struktur self agar dapat mengasimilasi dan melingkupi pengalaman-pengalaman tersebut. Terjadinya perubahan dalam kepribadian, ketika kepribadian dapat menerima segi baru dalam dirinya.
Propisisis 18 : Apabila individu mempersepsi dan menerima segala pengalamannya kedalam satu system yang serasi dan terpadu, maka dia akan lebih memahami dan menerima orang lain sebagai individu. Apabila individu dapat mengembangkan konsep dirinya yang serasi (selaras), maka dia akan dapat mengembangkan hubungan interpersonalnya yang baik dengan orang lain.
Proposisi 19 : Apabila individu mempersepsi dan menerima pengalaman organisme ke dalam struktur self-nya, dia akan menemukan bahwa dirinya telah mengganti system nilainya yang pada umumnya didasarkan kepada introjeksi yang dilambangkan secara palsu dengan proses penilaian pengalaman organismic yang terus menerus. Jika individu memiliki kepercayaan diri untuk melakukan proses penilaian (dapat menilai sikap, persepsi, dan perasaan baik terhadap dirinya, orang lain, atau peristiwa-peristiwa tertentu secara tepat), maka dia akan menemukan bahwa system yang lama itu tidak perlu lagi. Dalam arti nilai-nilai, sikap, atau persepsi yang lalu (yang tidak tepat) itu perlu diubah agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang sehat (well adjustment).

B. Terapi
Carl Rogers terkenal dengan kontribusinya terhadap metode terapi. Terapi yang dia praktikan memiliki dua nama yang sama-sama dia pakai. Awalnya dia menyebut metodenya dengan non-direktif, sebab dia berpendapat seorang terapis tidak seharusnya tidak mengarahkan kliennya, akan tetapi membebaskan klien mengarahkan sendiri ke mana terapi akan berujung. Semakin banyak pengalaman yang dia peroleh selama terapi, seorang terapis akan semkin menyadari bahwa dia masih tetap memiliki pengaruh pada kliennya justsru karena dia sama sekali tidak mengarahkannya.
Kemudian Rogers mengganti istilah ini dengan metode yang terpusat pada klien. Dia tetap menganggap klienlah yang seharusnya menyatakan apa yang salah pada dirinya, berusaha memperbaikinya sendiri, dan menentukan kesimpulan apa yang akan dihasilkan proses terapi-terapi ini akan tetap “terpusat pada klien” meskipun dia menyadari betul pengaruh terapis terhadap dirinya.
Salah satu ungkapan yang dipakai Rogers dalam menggambarkan bagaimana cara kerja metode terapinya ini adalah “berusahalah mendorong dan mendukung, jangan mencoba merekonstruksi”, dan dia juga mencontohkan dengan proses belajar mengendarai sepeda.
Satu-satunya teknik yang dikemukakan Rogers untuk menjalankan metode tersebut adalah refleksi. Refleksi adalah pemantulan komunikasi perasaan. Kalau klien berkata saya merasa tidak berguna, maka si terapi bisa memantulkan hal ini kembali pada klien dengan berkata, kalau begitu hidup telah mengecewakanmu ? Dengan cara ini, si terapis sesungguhnya menunjukan pada kliennya bahwa dia mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berusaha memahami perasaan si klien.
Syarat-syarat seorang terapis menurut Rogers :
1. Kongruen—kejujuran dan ketulusan dengan klien.
2. Empati—kemampuan merasakan apa yang dirasakan klien.
3. Respek—menerima klien apa adanya dan memberikan perhatian positif tak bersyarat kepadanya.
C. Ciri-ciri Pendekatan Client-centered (person centered)
1. Ditujukan kepada konseli yang sanggup memecahkan masalahnya agar tercapai kepribadian yang terpadu
2. Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan bukan segi intelektualnya
3. Titik tolak konselor dan keadaan individu termasuk kondisi social. Psikologi masa kini dan bukan pengalaman masa lalu.
4. Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikna antara ideal self dengan actual self.
5. Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh konseli sedangkan konselor adalah Pasif-Reflektif
D. Periode-periode Perkembangan Terapi Client-Centered

Periode 1 (1940-1950); Psikoterapi nondirectif
Pendekatan ini menekankan penciptaan iklim permisif dan noninterventif. Penerimaan dan klasifikas1. i menjadi teknik-teknik yang itama. melalui terapi nindirectif klien akan mencapai pemahaman atas dirinyan sendiri dan atas kehidupannya.
Periode 2 (1950-1957); Psikoterapi reflektif
Terapis terutama merefleksikan perasaan-perasaan klien dan menghindari ancaman dalam hubungan dengan kliennya. melalui terapi reflektif, klien mampu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep diri idealnya.
Periode 3 (1957-1970)
Tingkah laku yang luas dari terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dasarnya menandai pendekatan terapi eksperiensial ini. tetapi difokuskan kepada apa yang sedang dialami oleh klien dan pada pengungkapan apa yang sedang dialami oleh terapis. klien tumbuh pada suatu rangkaian keseluruhan (continuum) dengan belajar menggunakan apa yang sedang dialami.
E. Teori Client-Centered dalam Konseling Individual
Teori client centered merupakan psikoterapi nondirective yaitu metode perawatan psikis dengan berdialog anara konselor dengan konseli agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self dengan actual self.
1.Tujuan Konseling
Tujuan konseling untuk membina kepribadian konseli secara integral, berdiri sendiri dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri. Integral berarti struktur kepribadian tidak terpecah antara gambaran tentang diri dengan kenyataan. tanggung jawab dan kemampuan dirinya. Dalam hal ini diperlukan kemampuan dan keterampilan konselor, kesiapan konseli untuk menerima bimbingan dan taraf intelegensi konseli yang memadai.

2.Proses konseling
Kepribadian berdiri sendiri berarti mampu menentukan sendiri atas dasar
a) Konseli datang kepada konselor
b) Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab konseli, konselor menyadarkan konseli.
c) Konselor memberanikan konseli agar mampu mengemukakan perasaannya, konselor bersikap ramah, bersahabat dan menerima konseli.
d) Konselor menerima perasaan konseli dan memahaminya.
e) Konselor berusaha agar konseli dapat memahami dan menerima keadaan dirinya.
f) Konseli menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil (perencanaan).
g) Konseli merealisasikan pilihannya itu.

2. Teknik konseling
a) Acceptance: Konselor menerima konseli sebagaimana adanya dengan segala masalahnya, menerima secara netral.
b) Congruance : Karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan dan konsisten.
c) Understanding: Konselor dapat secara akurat dan memahami secara empati dunia konseli sebagaimana dilihat dari dalam diri konseli itu.
d) Non judge mental : Memberi penilaian terhadap konseli, akan tetapi konselor selalu objektif.

F. Kritik Terhadap Teori Rogers
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.
Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
Beberapa kritik terhadap konseling berpusat pada konseli antara lain :
a. Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosional, perasaan sebagai penentu perilaku, tetapi melupakan factor intelektif, kognitif dan rasional
b. Penggunaan informasi untuk membantu klien, tidak sesuai dengan teori
c. Tujuan untuk setiap klie yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas, umum dan longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu.
d. Tujuan ditetapkan oleh klien, tetapi tujuan konseling kadang-kadang dibuat tergantung lokasi konselor dan klien
e. Meskipun terbukti bahwa konseling client-centered diakui efektif tapi bukti-bukti tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggung jawabnya
f. Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.

REFERENSI

Syamsu Yusuf dan Juntika Nurikhsan.(2008). Teori Kepribadian. Bandung : PT. REMAJA ROSDAKARYA
Gerald Corey. (2009). Teori dan Praktek KONSELING & PSIKOTERAPI : Bandung : Reflika ADITAMA
Sofyan S. Willis. (2009). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung : ALFABETA
George Boeree. (2008). Personality Theories. Jogjakarta. PRISMASPHIE

0 komentar:

Poskan Komentar