Pages

 

Kamis, 29 Maret 2012

KONSELING KELUARGA BEHAVIORAL

0 komentar

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A.    TEORI BEHAVIORAL

Behavioristik merupakan orientasi teoritis yang didasarkan pada premis bahwa psikologi ilmiah harus berdasarkan studi tingkah laku yang teramati (observable behavior). Terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dan Skinnerian. Para ahli behaviorostik kurang memiliki perhatian terhadap struktur kepribadian internal seperti id, ego, dan super egonya Freud, karena stuktur seperti ini tidak dapat diobservasi.
Teori ini sering disebut dengan teori belajar seperti yang di ungkapkan Muhamad Surya (1988:186)  bahwa dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar.
Hal ini berarti konseling behavioral membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Hal yang paling mendasar dalam konseling behavioral adalah penggunaan konsep-konsep behaviorisme dalam pelaksanaan konseling, seperti konsep reinforcement  yang merupakan bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan pengkondisiaan operan dari Skinner.
Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar :
1.      Pembiasaan klasik;
Tokoh kondisioning klasik adalah Ivan Pavlov yang mengilustrasikan classical conditioning melalui percobaan dengan anjing.  Pembiasaan klasikal adalah suatu jenis belajar dimana stimulus netral dikemukakan secara berulang dengan stimulus yang dapat menimbulkan respon tertentu secara naluriah sehingga stimulus netral tsb akhirnya menimbulkan respon yang diharapkan (respond conditioning). Berdasarkan percobaan dari Pavlov dapat disimpulkan bahwa belajar adalah terjadinya ikatan stimulus bersyarat dan respons bersyarat.
2.      Pembiasaan operan
Jenis belajar dimana perilaku semata-mata dipengaruhi oleh akibat yang menyertainya. Tokohnya  adalah B.F. Skinner. Teori pembiasaan operan menghasilkan tiga prinsip belajar : Penguatan (reinforsment), Extinction (ekstinsi), dan hukuman (punishment).
a.       Reinforcement
Menurut Skinner “Reinforcement dapat terjadi dalam dua cara yaitu positif dan negatif. Yang positif terjadi ketika respon diperkuat (muncul lebih sering) sebab diikuti oleh kehadiran stimulus yang menyenangkan.  Sementara “Reinforcement” negatif terjadi ketika respon diperkuat (sering dilakukan), karena diikuti oleh stimulus yang tidak menyenangkan. Reinforcement ini memainkan peranan dalam perkembangan kecenderungan-kecenderungan untuk menolak (menghindar).
b.      Extinction
Terjadinya extinction dimulai ketika respon-respon yang diperkuat mengakhiri dampak yang positif.
c.       Hukuman
Beberapa respon mungkin dapat diperlemah dengan hukuman. Menurut Skinner (Syamsu : 132) hukuman ini terjadi ketika respon diperlemah (menurun frekuensinya dan bahkan menghilang), karena diikuti oleh kehadiran stimulus yang tidak menyenangkan.

3.       Teori Belajar Sosial
Tokoh dari Teori belajar ini adalah Bandura. Teori belajar social Bandura tentang kepribadian didasarakn pada formula bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik yang terus menerus antara faktor-faktor penentu : internal dan eksternal
Perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau perangsangan eksternal dan internal. Karena itu tujuan dari terapi adalah untuk memodifikasi koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R). Dasar teori dari behavioral adalah
1.      Belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan serupa
2.      Keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap kepekaan lingkungan
3.      Perbedaan-perbedaan biologik baik secara genetik atau karena gangguan fisiologik. Para konselor behavioral memandang kelainan perilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari.

B.     TEKNIK-TEKNIK KONSELING BEHAVIORISTIK

Teknik konseling behavioral diarahkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. Prinsip kerja teknik konseling behavioral adalah:
1.      Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan, tujuannya agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya, penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.
2.      Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
3.      Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
4.      Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung)
5.      Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak.
Menurut Krumboltz dan Thoresen (Willis: 2011) bahwa teknik-teknik konseling itu harus disesuaikan dengan kebutuhan individual konseli dan tidak ada suatu teknikpun digunakan untuk semua kasus yang ada hanyalah mempertimbangkan teknik-teknik lain secara alternatif guna tercapainya tujuan konseling yaitu perubahan perilaku konseli.
Willis (2011) menerangkan jenis-jenis teknik konseling behavioral adalah sebagai berikut:
1.      Desensitisasi Sistematik (systematic desentization)
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.
2.      Latihan Asertif (assertive training)
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.


3.      Pengkondisian Aversi (aversion therapy)
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
4.      Pekerjaan Rumah (home-work)
Suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya adalah dengan memberi tugas rumah untuk satu minggu.

C.    APLIKASI TEORI BEHAVIORAL DALAM KONSELING KELUARGA

Pada awalnya perkembangan BK, guru  pembimbing tidak secara khusus menangani masalah keluarga akan tetapi menangani masalah kesulitan belajar, penyesuaian sosial dan pribadi siswa yang berkait dengan keadaan sosial-psikologis keluarga kemudian terjadi anggapan yang keliru bahwa konseling keluarga adalah bimbingan bagi para calon ibu dan bapak yang akan memasuki kehidupan rumah tangga. Pada akhirnya pada tahun 1983 di jurusan BK IKIP Bandung menjadikan konseling keluarga sebagaimana yang ada di negara asalnya yakni Amerika Serikat yang berorientasi pada pengembangan individu anggota keluarga melalui sistem keluarga yang mantap dan komunikasi antar keluarga yang harmonis. Teknik behavioral merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam konseling keluarga.
Konselor-konselor behavioral mengemukakan bahwa prosedur belajar yang telah digunakan untuk mengubah perilaku dapat diaplikasikan untuk mengubah perlaku yang bermasalah didalam suatu keluarga.
Liberman (Willis: 2011)) menjelaskan strategi berhavioral yang khusus didalam keluarga yaitu pertama kali sebagaimana anggota keluarga berinteraksi satu sama lain, dapat diterjemahkan kedalam behavioral dan belajar, dengan memfokuskan pada akibat-akibat perilaku, artinya bahwa anggota keluarga belajar bagaimana memberikan kepada anggota lain pengenalan dan persetujuan perilaku-perilaku yang diinginkan dan bukan perilaku yang menyimpang.
Perspektif psikiatri memperkaya pengetahuan tentang konseling keluarga. Menurut Gurman, Kniskern & Pinsof (Syafi’i: 2008) Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social. Contohnya, konseli yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua- anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive Bateson Lidz&Lidz (Syafi’i: 2008). Hal ini berarti konseling keluarga sangat dibutuhkan berkaitan dengan kelanjutan konseling individual yang teridentifikasi berkaitan dengan keluarga.
1.      Konseling Keluarga Behavioral
Di dalam terapi keluarga behavioral, ditekankan tentang bagaimana mengubah perilaku anggota keluarga / keluarga dengan memodifikasi gejala atau akibat dari suatu tindakan. Penekanan pada penghilangan perilaku yang tidak sesuai menjadi perilaku positif.
Tipe-tipe dalam terapi keluarga behavioral
a.       Latihan perilaku orang tua (behavioral parent training )
Behavioral parent training menunjukkan pada pelatihan keterampilan orangtua. Terapis membantu sebagai pendidik belajar sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk merubah respon orang tua terhadap anak-anaknya. Berubahnya respon orang tua, akan membuat perilaku anak pun berubah. Tipe ini menggunakan metode verbal dan perbuatan. Di dalam metode verbal mengandung intuksi verbal maupun tertulis. Tujuannya untuk mempengaruhi pikiran. Sedangkan metode perbuatan menggunakan teknik bermain peran ( role playing ), modelling dan latihan tingkah laku yang baik. Fokus utama pada perbaikan interaksi antara orang tua dan anak yang mengalami masalah.
b.      Terapi pernikahan / suami istri (mariage/ couples therapies and education).
Dipelopori oleh Robert Liberman ( 1970 ) dan Richard Stuart ( 1969 ). Empat komponen utama dalam terapi pernikahan/ suami istri ( Hahlweg, Baucom, & Markman, 1988 ) :
1)      Analisis perilaku dalam masalah suami istri, Analisis ini berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh terapis terhadap pasangan, jawaban-jawaban dari angket yang diberikan, dan pengamatan terhadap perilaku keluarga.
2)      Pembalasan yang positif. Membangun teknik pemikiran yang positif dengan ‘caring day” dan “contingency contracts”, “caring day” : hari dimana anggota keluarga saling memperhatikan. “contingency contracts” :
3)      Pelatihan keterampilan berkomunikasi
Pasangan belajar menggunakan kata ‘saya’ dalam kalimat untuk mengekspresikan perasaan-perasaan mereka. Mereka belajar tentang masalah-masalah “here and now “ yang mereka miliki, dan kemudian merenungkan hal-hal pada masa lalu. Selanjutnya mereka mulai menggambarkan perilaku suami/istri dengan spesifik. Di akhir latihan, pasangan dapat memberikan feedback positif terhadap perilaku pasangan.
4)      Latihan memecahkan masalah, Komponen ini melengkapi pasangan dengan keterampilan memecahkan masalah, seperti menyebutkan ( secara jelas ) apa yang mereka inginkan, kemudian merundingkannya dengan pasangan, serta membuat kesepakatan.

c.       Treatment pada Disfungsi seksual (treatment of sexual disfunctioning).

Digunakan untuk membantu pasangan suami istri yang mengalami gangguan pada hubungan seks mereka, yang kemudian menjadi masalah pasangan. Seperti ejakulasi dini. Treatment yang diberikan mengandung: Pengurangan kecemasan terhadap penampilan mereka Pendidikan seks, yang mengandung teknik-teknik dalam hubungan suami istri Latihan keterampilan dalam berkomunikasi Perubahan sikap

d.      Terapi fungsi keluarga (functional family therapy ).
Dalam functional family therapy, pertolongan diberikan apabila hubungan interpersonal antar anggota keluarga dalam keadaan : Contact/ Closeness ( Merging ) Anggota keluarga sama-sama bersaing di dalam keluarga. Distance/ Independence ( Separating ) Anggota keluarga saling memisahkan diri, ada jarak diantara mereka.

Penerapan teknik-teknik ini ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh konselor. Liberman dalam Willis (2009), mengemukakan tiga bidang kepeduliaan teknis bagi konselor, yaitu :
1.      Peranaan gabungan terapeutik
Liberman menekankan tentang peranan aliansi terapeutik sehingga konselor dapat mengfungsikan dirinya sebagai katalisator bagi mempercepat perubahan dalam sisitem keluarga. Sebagai konselor behavioral yang mempunyai pandangan humanistik, Liberman memandang kkonselor itu sebagai guru, yakni orang yang dapat menyediakan model bagi perubahan perilaku, mengusahakan perubahan dengan menyediakan struktur dan bimbingan, dan mempertunjukan kepedulian yang asli (genuine) dan yang memahami. Liberman dalam Willis (2009) mengemukakan bahwa konselor model behavioral tidak berprilaku seperti mesin mengajar yang tak memiliki daya ekpresi emosional. Perannya hendaklah sebagai pendidik yang mampu menyatakan perasaannya yang menyenangkan dan mengembangkan gaya kemanusiaan, baik dalam kliniknya maupun dalam kehidupan sehari-hari

2.      Penilaian Keluarga
Konselor selama fase awal konseling, membuat iklim yang hangat dan mendorong, konselor menilai masalah-masalah yang ada, dan membuat apa yang dikenal “analisis fungsional atau behavoral terhadap masalah-masalah” konselor behavioral terkait pada analisa sistematik terhadap perilaku yang tepat dan dapat diamati, yang akan ditangani. Konselor memimpin anggota keluarga untuk memformulasikan tujuan-tujuan perilaku yang spesifik.

3.      Melaksanakan Strategi behavioral
Menurut Liberman cara yang bernilai untuk memikirkan tentang strategi-strategi ini ialah “sebagai eksperimen- eksperimen perubahan perilaku” dimana keluarga dengan bimbingan konselor memprogramkan kembali kontingensi-kontingensi ­reinforcement yang adala dalam keluarga, strategi ini dirancang untuk memutuskan pola-pola perilaku yang tak diinginkan yang selalu dipertahankan, semua proses ini melalui kontrak dan negosiasi dulu yang berisi tentang perilaku saling memberi yakni perilaku yang diinginkan, kepada siapa, untuk siapa, kapan, dan dalam kondisi bagaimana.

2.      Tujuan konseling keluarga
Menurut Willis (2011) Tujuan dari konseling behavioral ini adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon lama yang merusak diri dan mempelajari respon-respon baru yang lebih sehat. Sedangkan tujuan dari terapi behavioral adalah untuk memperoleh perilaku baru yang lebih positif dan diterima anggota keluarga lainnya, mengeliminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan (adjusted). Selain itu juga tujuan konseling keluarga behavioristik yaitu Mampu untuk saling memberikan stimulus dan motivasi yang kondusif sesama anggota keluarga.
Pendekatan ini ditandai oleh :
a.       Fokusnya pada perilaku yang tampak dan spesifik
b.      Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment
c.       Formulasi prosedur treatment khusus sesuai dengan masalah khusus
d.      Penilaian objektif mengenai hasil konseling.

3.      Hubungan Konseli dan Konselor dan peranan konselor dalam konseling keluarga
Dalam kegiatan konseling, konselor memegang peranan aktif dan langsung. Hal ini bertujuan agar konselor dapat menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menemukan masalah-masalah konseli sehingga diharapkan kepada perubahan perilaku yang baru. Sedangkan konseli harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah, harus bersedia bekerjasama  dalam melakukan aktivitas konseling, baik ketika berlangsung konseling maupun diluar konseling, namun Rosjidan (1988:243) mengemukakan bahwa salah satu aspek yang essensial dalam terapi behavioral adalah proses penciptaan hubungan Pribadi yang baik.
Dalam hubungan konselor dengan konseli beberapa hal dibawah ini harus dilakukan:
a.         Konselor memahami dan menerima konseli
b.        Keduanya bekerjasama
c.         Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan konseli
Sedangkan peranan konselor dalam konseling keluarga yaitu :
a.       Mengkomunikasikan pemahamannya pada klien
b.      Menyiapkan / membina hubungan dengan klien
c.       Bekerjasama mengatasi problem yang sesolik
d.      Memberi kuliah, informasi dan menjelaskan proses yang dibutuhkan anggota untuk melakukan perubahan
e.       Memberikan reinforcement
f.       Mendorong klien mentransfer tingkah laku dalam kehidupan sehari - hari
Fungsi konselor
a.       Sebagai guru / pelatih (dalam mempelajari tingkah laku yang efektif)
b.      Sebagai pemimpin kelompok
c.       Sebagai guru
d.      Sebagai pengarah
e.       Sebagai ahli dalam mendiagnosis
Sebagai model

0 komentar:

Poskan Komentar