Pages

 

Friday, April 14, 2023

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

0 comments

 “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Proses pembelajaran tidak sekedar menghafal konsep saja namun proses belajar haruslah bermakna yaitu belajar yang menyenangkan dengan segenap konsep dan informasi yang utuh, dapat dipahami dengan baik dan tidak mudah dilupakan sehingga meningkatkan kemampuan peserta didik

Proses pembelajaran ini merupakan bagian dari pendidikan. Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena hanya dengan pendidikanlah kita mampu untuk menerjemahkan nilai-nilai, gagasan, sikap dan tindakan sosial yang mencerminkan kehidupan yang bermoral dan bermartabat

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~



  1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?  Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai filosofi Pratap Triloka (ing ngarso sungtulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani) memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan, tentunya kita harus bisa menyelesaikan sebuah masalah yang terjadi dengan sebuah keputusan yang  tepat berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diambil, mengacu kepada 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil haruslah berpihak kepada murid.
  2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? Setiap manusia memiliki nilai-nilai yang melekat pada dirinya, guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan seyogyanya memiliki kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berhubungan sosial demi mewujudkan prinsip Tut Wuri Handayani. Penting bagi guru untuk dapat memupuk nilai-nilai positif / kebajikan universal dalam dirinya yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang diambil. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sebagai guru tentunya akan berpengaruh kepada prinsip-prinsip didalam pengambilan keputusan yang tepat dan benar.
  3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya. Proses coaching bukanlah sekedar berbincang saja, namun coaching adalah proses profesional yang bertujuan oleh karena itu pada pelaksanaannya haruslah berdasarkan ilmu, seperti yang telah dipelajari sebalumnya proses coaching melalui alur TIRTA yaitu dalam pengambilan keputusan tidak boleh dipengaruhi oleh coach namun harus bersumber dari kesadaran dan kemampuan coachee. Masalah yang kita hadapi yang berkaitan dengan bujukan moral atau dilema etika memerlukan pemecahan masalah dengan mengambil keputusan yang tepat bersumber dari nilai-nilai kebajikan melalui 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan
  4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? Pembelajaran Sosio-emosional adalah pembelajaran untuk semua orang khususnya guru dan merupakan pembelajaran sepanjang hayat karena akan berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupannya. Dalam menyelesaikan masalah dilema etika hendaknya jangan terjebak dalam kemampuan sosial-emosiaonal yang belum matang, misalnya kurang empati, bawa perasaan, subjektif dll. Hal-hal seperti ini akan berpengaruh kepada pengambilan keputusan, pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam pengambilan keputusan
  5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Sebagai seorang pemimpin, guru harus bisa membedakan antara bujukan moral dan dilema etika, tentunya kita sudah mengalami berbagai permasalahan tersebut dan perlu dievaluasi apakah pengambilan keputusan yang dimbil sudah kembali pada nila-nilai kebajikan? Pembahasan studi kasus ini yang berkaitan dengan bujukan moral tentunya sebisa mungkin kita berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan dilema etika tentunya akan mengasah rasa empati, kolaborasi dan mementingkan kepentingn bersama yang bertujuan berpihak pada murid.
  6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman? Pentingnya guru dapat membedakan antara bujukan moral dan dilema etika, mempelajari 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip dan 9 langkah juga pentingya memiliki kompetensi sosial emosional, hal tersebut berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang baik berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang melekat pada individu guru tersebut. Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan yang positif, kondisuf, aman dan nyaman karena bersumber dari pemikiran, perasaan dan tindakan yang tepat. 
  7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 3 Prinsip pengambilan keputusan dilema etika adalah prinsip bebasis hasil akhir, berbasis peraturan dan berbasis rasa peduli. Tantangan yang sering dirasakan adalah pengambilan keputusan yang tergesa-gesa, kurang konsisten dan terlalu cepat, dalam mensosialisasikannyapun tidak merata. Paradigma dulu sebelum berganti pimpinan terlalu mengarah kepada rasa kasihan sehingga berpengaruh terhadap kredibilitas guru dan sekolah sedangnya saat ini keputusan yang diambil berdasarkan 3 prinsip sesuai situasi dan kondisi.
  8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? Pengambilan keputusan berdasarkan keberpihakan pada murid adalah agar murid mencapai merdeka belajar, dimana yang lain masih konvensional namun kita berani berbeda. Melalui pendekatan bimbingan dan konseling yang memandirikan akan mampu memfasilitasi perkembangan murid secara optimal dalam aspek kematangan religi, etika, intelektual, pemahaman diri, sosial, kemandirian perilaku ekonomi, dll. Melalui asesment terlebih dahulu, pembimbingan yang berdiferensiasi dan evaluasi serta tindak lanjut sesuai kebutuhan belajar murid. 
  9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?Segala keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan berdampak dan membekas dalam diri murid dalam rentang waktu jangka panjang maupun jangka pendek, hal pertama yang harus dilakukan guru adalah jadilah teladan yang baik sesuai dengan aturan dan kompetensi guru. Pakailah 9 langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai dasar panduan pengambilan keputusan sehingga pengambilan sudah teruji, tepat dan berpihak pada murid. Maka keputusan yang kita ambil tidak boleh merampas kebahagiaan siswa dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan kita sudah Berpihak pada murid, berdasarkan Kebijakan universal dan Bertanggung jawab
  10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Kesimpulan akhir yang dapat saya sampaikan adalah bahwa sebagai pemimpin kita akan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan, maka dalam proses pengambilan keputusan ini haruslah secara sadar kita menyadari posisi kita sebagai among dan tujuan kita adalah memerdekakan murid melalui pendidikan yang bermakna. Bujukan moral ataupun dilema etika akan selalu kita jumpai dan hal ini berkaitan dengan hati nurani, oleh karena itu agar tidak menjadi bias maka kita perlu memiliki kompetensi sosio-emosional yang matang dan terlatih., begitupun pada proses coaching, coaching yang baik adalah yang memandang solusi berdasarkan nilai-nilai kebajikan dan kebenaran.  Untuk mendapat keputusan yang relatif tepat adalah proses panjang namun hasilnya akan mencipkan budaya positif yaitu lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Lingkungan tersebut akan menciptakan murid yang hebat, berkembang sesuai potensinya.
  11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu  Individu vs kelompok,   Kebenaran vs kesetiaan, Keadilan vs belas kasihan, Jangka panjang vs jangka pendek. 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir berbasis akhir,  Berpikir berbasis aturan dan  Berpikir berbasis rasa peduli. Terdapat 9 langkah yang ditempuh dalam pengambilan dan pengujian keputusan meliputi; 1) mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2) menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) pengujian benar atau salah, 5) pengujian paradigma benar lawan benar, 6) melakukan prinsip resolusi, 7) investigasi opsi trilema, 8) buat keputusan, 9) lihat lagi keputusan dan refleksikan. Hal menurut saya diluar dugaan adalah langkah-langkah ini adalah sebuah panduan, artinya bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Keberhasilan dalam pengambilan keputusan perlu diasah sehingga kita bisa memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasar nilai-nilai kebajikan
  12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? Sebelum mempelajari modul ini saya pernah menerapkan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi dilema moral, sebelumnya saya merasa takut dan tidak percaya diri oleh karena itu saya selalu melibatkan pimpinan dalam keputusan yang saya ambil, ternyata setelah mempelajari modul ini keputusan tersebut sudah tepat. Dalam modul ini saya mempelajari langkah-langkah pengambilan keputusan dengan tepat melalui pengujian sehingga kelak saya bisa mengabil keputusan sendiri dengan percaya diri
  13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Saya tidak menyangka pembelajaran guru penggerak ini akan semendalam ini, saya sangat bersyukur dibekali ilmu mengenai pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, dasar pengambilan keputusan ada 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip dasar dan 9 langkah-langkah beserta pengujiannya. dampaknya sangat besar banyak ilmu yang saya dapatkan yang akan menyertai saya menjalani profesi saya sebagai guru BK. selama ini saya hanya mengikuti keputusan/aturan dari pimpinan namun kedepan saya akan mengimplementasikan dalam setiap pengambilan keputusan dikelas, di kalangan guru, di sekolah, di komunitas dan ditempat terkait. 
  14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Sangat Penting. Setelah mempelajari modul 3.1 saya menjadi berefleksi dilema-dilema dan bujukan moral yang sering dihadapi disekolah selama ini memang nyata dialami oleh seluruh praktisi pendidik Secara pribadi keputusan yang diambil akan mengasah bagaimana nilai-nilai yang melekat pada diri itu tumbuh menjadikan karakter sebagaimana yang dimanatkan oleh nilai-nilai guru penggerak untuk menciptakan juga nilai-nilai profil pelajar pancasila. Sebagai seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan haruslah hati-hati dengan mengesampingkan nilai subjektifitas dan menerapkan paradigma, prisip dan langkah2 pengambilan keputusan yang teruji.

0 comments:

Post a Comment