Pages

 

Senin, 08 April 2013

Makna Belajar dan Gaya Belajar

0 komentar


Inilah bahan saya masuk kelas hari ini
Sebelumnya saya minta minta maaf mungkin ketika saya memberikan materi bimbingan di kelas terlihat kurang maksimal, saya bukanlah seorang professional yang sudah sangat luar biasa dibidangnya, saya disini sedang belajar sebagai seorang yang professional, saya senang menyebutnya sebagai belajar dan saya sangat menikmati proses belajar tersebut. Kalian sedang belajar sayapun sedang belajar oleh karena mari kita saling berbagi dan saling mengisi dari kalian saya akan sangat belajar banyak.
Ngomong-ngomong soal belajar, apakah kalian yakin kalau belajar itu adalah sebuah proses? Iya proses. Lalu hasilnya apa? Hasil dari belajar adalah perubahan perilaku, jika anda mengaku telah belajar ini dan itu namun tidak ada perubahan perilaku itu belum dinamakan belajar. Kemudian belajar seperti apa yang akan menghasilkan perubahan perilaku? Yaitu aktifitas menganal, mencerna dan memaknai apa yang dipelajari.
Bagi saya belajar adalah sebuah keajaiban, karena ketika alam semesta ini diciptakan beserta isinya, tuhan memberikan wewenang seluas-luasnya kepada manusia untuk mengelola segala isinya. Ketika kita dilahirkan dari rahim orangtua kita kita seperti kertas berwarna yang siap untuk ditoreh sejarah hidupnya, seperti gelas kosong yang siap untuk diisi dan seperti lilin yang siap untuk dinyalakan. Yah, sebuah lilin yang siap untuk dinyalakan karena manusia menyimpan kunci alam semesta yang dititipkan oleh tuhan. Dan password pertama dan utama adalah Iqra (ayat pertama yang tuhan turunkan) seruan pertama agar manusia membaca… belajar…. Kunci ini akan membuka rahasia-rahasia Tuhan, rahasia-rahasia ilmuNya.. maka belajar bukanlah suatu beban melainkan sebuah keajaiban, keniscayaan, kekaguman, ungkapan kesyukuran dan jalan untuk mengenal Tuhan, bukankah kenikmatan hidup itu adalah ketika kita mengenal Tuhan.
Dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena dan laut (menjadi) tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut laut (lagi) sesudah (kering)Nya, niscaya tidak aka nada habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (ilmu dan hikmatNya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana (QS. Luqman:31)
Kemudian untuk apa kita belajar?
Jika anda tidak mengahsilkan apa-apa dalam belajar, maka cek kembali metode belajar anda tapi jika anda tidak bergairah dalam belajar, anda harus segera menyadari mungkin anda tidak memiliki tujuan atau mungkin kehilangan tujuan.
Ini akan membiacarakan soal tujuan, saya yakin tujuan manusia diciptakan dimuka bumi ini adalah untuk mengabdi kepada Tuhan, begitupun dengan belajar, belajar adalah wujud pengabdian kita kepada Tuhan maka tujuan belajar adalah karenaNya dan mengharap Rido dan berkah dariNya,,
Karena hilangnya spirit ketuhanan inilah yang membuat banyak penyelewengan-penyelewengan dalam belajar dan turunnya semangat belajar, penyelewengan tersebut antara lain menyontek, memalsukan nilai, jual-beli ijazah, penjokian  dll. (naudzubillah) . saya yakin pelaku tersebut nampak kehilangan tujuan utamanya yaitu tujuan ketuhanan..  mereka mulai mengambil dunia sebagai tujuan, menghalalkan segala cara agar memperoleh gelar, uang yang banyak dalam waktu yang singkat dan cara yang tidak sehat. Jika tujuan ketuhanan masih dipengang, maka hal tersebut tidak akan terjadi dan proses belajarpun akan luar biasa hasilnya dan tentunya memperoleh berkah dariNya… 
Kadang tujuan spiritual tidak abstrak dan tergeser oleh tujuan dunia, sebenarnya bukan itu yang terjadi mereka hanya tidak memiliki tujuan-tujuan kecil untuk mencapai tujuan besar bukankh untuk mencapai 100 km harus mencapai 10 km dahulu.
Maka kita harus memiliki tujuan-tujuan kecilnya, tujuan itu adalah kemudahan hidup. Apakah kalian sadari kita mempelajari computer agar kita menguasainya dan pekerjaan harian menjadi mudah, kita mempelajari bahasa agar kita lebih mudah dalam berkomunikasi dll.
Jika tujuan anda belajar adalah untuk memperoleh nilai yang bagus, maka ketika anda mendapat nilai yang bagus setelah itu selesai bahkan kadang anda melupakan apa yang anda pelajari ketika ujian telah berakhir dan ketika anda memperoleh nilai yang tidak memuaskan serentak anda akan kecewa. Maka cek kembali tujuan anda belajar..
Namun kenapa belajr itu sering tidak menyenangkan? Maka anda harus mengecek kembali bagaimana gaya anda dalam belajar.
Gaya belajar adalah sesuatu yang penting agar proses belajar bisa menyenangkan dan hasilnyapun memuaskan.  Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality).
Pengertian Gaya Belajar dan Macam-macam Gaya Belajar
1.      VISUAL (Visual Learners)
Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung,kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
a.       Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
b.      Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
c.       Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
d.      Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
e.       Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
f.       Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
g.      Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu

2.      AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
a.       Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
b.      Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
c.       Cenderung banyak omong
d.      Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
e.       Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
f.       Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
g.      Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

3.      KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :
a.       Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
b.      Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
c.       Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
d.      Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
e.       Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
f.       Menyukai praktek/ percobaan
g.      Menyukai permainan dan aktivitas fisik





0 komentar:

Poskan Komentar