Pages

 

Sabtu, 21 April 2012

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

0 komentar

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah sebuah istilah populer yang jika diartikan perkata diantaranya adalah Attention = perhatian, Deficit = berkurang, Hyperactivity = hiperaktif dan Disorder = gangguan. Jadi dalam bahasa Indonesia ADHD dapat diartikan sebagai gangguan pemusatan perhatian disertai hyperaktif. ADHD merupakan perilaku yang berkembang secara tidak sempurna dan timbul pada anak-anak dan orang dewasa. Perilaku yang dimaksud berupa kekurangmampuan dalam menaruh perhatian, pengontrolan gerak hati serta pengendalian motor (Indiyah, 1999). Senada dengan yang dipaparkan oleh Baihaqi jika didefinisikan secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak-anak yang memperlihatkan simtom-simtom (ciri atau gejala) kurang konsentrasi, hiperaktif, dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagaian besar aktifitas hidup mereka (Baihaqi dan M. Sugiarmin, 2006).
Secara historis pada tahun 1845, Heincrich Hoffman, seorang neurolog untuk pertama kalinya menulis mengenai perilaku yang kemudian dikenal dengan hiperaktif dalam buku “cerita anak” karangannya (Baihaqi dan M. Sugiarmin, 2006). Penekanan Istilah ADHD pada tahun 1017-1926 lebih disebabkan oleh epidemi encehalitis (peradangan otak). Menurut AA straus dan Lethtinen di tahun 40 dan 50-an, label ini diterapkan untuk anak-anak yang memperlihatkan perilaku serupa, tetapi pada diri mereka tidak ditemukan kerusakan otak, dan memunculkan istilah “minimal brain manage” dan “minimal brain dysfungtion”. Anggapan ini mendapat dukungan lebih jauh dari penemuan yang dilakukan oleh Bradley pada tahun 1937, bahwa psycho simultan amphetamine dapat mengurangi tingkat hiperaktivitas dan masalah perilaku. Akibatnya istilah “minimal brain manage” dan “minimal brain dysfungtion” hanya berlaku sampai tahun 50-an. Menurut Laufer, Denhoff dan Solomons () Diakhir tahun 50-an ADHD disebut hiperkenesis yang biasanya ditujukan terhadap lemahnya penyaringan stimuli yang masuk kedalam otak . sampai pada tahun 70-an, ada pendapat bahwa selain hiperaktif, rendahnya perhatian dan kontrol gerak juga merupakan simtom utama ADHD.
Kini anak ADHD dibedakan menjadi 3 tipe.
a.       Tipe ADHD gabungan
b.      Tipe ADHD kurang memerhatikan dan tipe ADHD hiperaktif impulsif
c.       Tipe ADHD hiperaktif impulsive
Menentukan tipe anak ADHD dapat dilihat dari gejala-gejala yang ditimbukannya, sebagai acuan mengenai hal tersebut dapat dibaca pada edisi keempat (edisi terakhir) dari American Psychiatric Association (DSM IV) 1994.
Berikut ini adalah tabel 1. kriteria ADHD dari DSM (Diagnostic statistical Manual) IV 1994 American Psychiatric Association
AI. Kurang Perhatian

        Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit 6 bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan
a.       Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya
b.      Seringkali mengambil kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain
c.       Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara langsung
d.      Seringkali tidak mengikuti baik-baik intruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan, atau tugas di tempat kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau kegagalan untuk mengerti intruksi)
e.       Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan
f.       Seringkali kehilangan barang/benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan, misalnya kehilangan permainan; kehilangan tugas sekolah; kehilangan pensil, buku dan alat tulis lain.
g.      Seringkali menghindar, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang didukung, seperti menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah
h.      Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar; dan
i.        Seringkali lekas lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari
A.2 Hiperaktivitas Impulsifitas
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan yang maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan.
Hiperaktivitas
a.   Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi.
b.   Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau di dalam situasi lainnya di mana diharapkan agar anak tetap duduk
c.   Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi di mana hal ini tidak tepat.
d.  Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlihat dalam kegiatan senggang secara tenang
e.   Sering “berteriak” atau bertindak seolah-olah “dikendalikan oleh motor” dan
f.    Sering berbicara berlebihan
Impulsivitas
a.    Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai
b.    Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran
c.    Mereka sering mengintrupsi atau mengganggu orang lain, misalnya memotong pembicaraan atau permainan

A.    Beberapa gejala hiperaktivitas impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.
B.     Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/ situasi.
C.     Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan
D.    Gejala-gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya, dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental lainnya


ADHD termasuk dalam subkategori Discruptive Behavior Disorder  yang merupakan gangguan terhadap perilaku dan tidak termasuk gangguan perkembangan (Indiyah, 1999).




1.      Karakteristik ADHD/Sympton ADHD
Menurut Barkley (Indiyah, 1999), penderita ADHD bila dibandingkan dengan individu yang normal pada usia dan jenis kelamin yang sama, maka pada penderita dapat diamati gejala-gejala sebagai berikut :
a.       Innattention (tidak ada perhatian)
Penderita mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu yang sedang dihadapinya. Ciri-cirinya meliputi :
1)      Penderita sering tidak berhasil menyelesaikan tugasnya
2)      Penderita tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya
3)      penderita sulit memusatkan perhatian dan sulit berkonsentrasi terhadap tugas yang diberikan
4)      penderita mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatiannya terhadap tugas yang diberikan.

b.      Impulsity
Impulsity yaitu kemampuan untuk mengontrol perilaku berlangsung dengan lebih mengutamakan dorongan hati. Ciri perilaku yang dimaksud antara lain :
1)      Penderita sering bertindak lebih dahulu sebelum berpikir
2)      Sering melakukan kegiatan lain sebelum kegiatan yang ada diselesaikan
3)      Mengalami kesulitan dalam mengatur dan mengorganisir pekerjaan tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitifnya
4)      Sering berteriak-teriak dikelas dan mudah memotong pembicaraan oranglain
5)      Dalam situasi bermain penderita sering gagal dalam menunggu giliran



c.        Hyperactivity
Hyperactivity adalah perilaku yang mempunyai kecenderungan untuk melakukan auatu aktivitas yang berlebihan, baik motorik maupun verbal. Ciri-ciri perilaku yang dimaksud meliputi :
1)      Tidak dapat duduk tenang berlama-lama
2)      Selalu bergerak misalnya selalu meloncat-loncat
3)      Cenderung berbuat usil
4)      Gelisah (dialami juga dalam keadaan tidur)

2.      Faktor Penyebab ADHD
Pada hakikatnya menurut Baihaqi dan Sugiarmin (2006) ADHD tidak dapat diidentifikasi secara fisik dengan X-ray atau labolatorium, ADHD hanya dapat dilihat dari perilaku yang sangat kentara pada diri anak ADHD. Menurutnya walaupun penyebab ADHD telah banyak diteliti dan dipelajari, namun belum ada satupun penyebab pasti yang tampak berlaku untuk semua gangguan yang ada. Berdasarkan beberapa referensi dari para ahli yang meneliti faktor penyebab ADHD dapat dipaparkan, diantaranya adalah :
a.       Genetika
Faktor genetika tampaknya menjadi faktor utama dalam ADHD (Sciarra : 2004), ditegaskan kembali menurut Andi (2010) Penyebab terbanyak dalam kasus ADHD adalah faktor genetika, sama halnya dengan beberapa jenis gangguan lainnya yang serupa. Menurut para ahli, penderita ADHD ditemukan kadar dopamine yang rendah dalam otak. Untuk saat ini sedang dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai jenis gen-gen yang terlibat dalam memproduksi kimia dopamine dalam otak seperti studi yang dilakukan oleh ADHD Molecular Genetics Network. Menurut Nurdiyah (1999) kejadian faktor genetik ini dapat terlihat dalam keluarga yang kecanduan alcohol, sociopath, histeris atau pada orangtua yang mengalami gangguan psiatri lainnya, Nurdiyah juga menambahkan faktor genetik ini dapat ditemukan pda bayi-bayi yang sangat aktif sejak lahir seperti bayi mempunyai tingkat aktivitas yang tinggi, emosinya labil dan pola tidur yang tidak teratur.
b.      Pre-, peri-, dan pasca trauma melahirkan. 
Barkley (Sciarra : 2004) menjelaskan Komplikasi sebelum, selama, atau setelah lahir berkontribusi pada kemungkinan berkembang ADHD pada anak.  Dalam kasus ini, faktor keturunan akan muncul menjadi faktor kuat dari komplikasi kehamilan atau persalinan (Turnbull et al. dalam Sciarra: 2004).   Postnatal trauma termasuk cedera otak, paparan bahan kimia, infeksi, dan anemia-telah terhubung dengan ADHD (Baren dalam Sciarra: 2004)
c.       Perbedaan Otak. 
Menurut Lou, Henriksen, Bruhen dkk (Sciarra : 2004) Studi telah menemukan bahwa pada anak dengan ADHD terdapat  aliran darah yang kurang di daerah premotor dan prefrontal otak daerah yang terhubung ke sistem limbict . Selain itu, studi electroencephalogram telah menunjukkan bahwa anak-anak ADHD memiliki aktivitas lebih banyak di belahan otak kanan dari lobus frontal dari pada belahan otak kiri (Graw dalam Sciarra : 2004). Akhirnya, penelitian telah menunjukkan bahwa dopamine dan norepinephric merupakan dua jawab untuk kewaspadaan dan perhatian terhadap penderita ADHD karena penderita ini berada pada tingkat yang lebih rendah diantara anak-anak tanpa ADHD (Barabasz & Barabasz dalam Sciarra : 2004).







3.      Pengaruh ADHD
Masalah yang selalu tetap mengikuti penderita ADHD antara lain agresif, sulit tidur, menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang (Indiyah: 1991). Perilaku tersebut akan melahirkan kembali akibat-akibat yang lebih besar pengaruhnya, menurut (Baihaqi dan Sugiarmin 2004) pengaruh utama terhadap kondisi tersebut diantaranya :
a.       Tidak adanya pandangan ke dapan atau ke belakang, yaitu selalu hidup untuk saat ini
b.      Keterampilan organisasi yang kurang atau tidak adanya waktu untuk penanganan
c.       Kurangnya keterampilan sosial dan ketidakmampuan untuk membaca petunjuk sosial
d.      Toleransi frustasi yang kurang atau sikap tidak luwes
e.       Keputusan untuk mengambil resiko
f.       Masalah perpindahan sekolah, masalah dalam mencurahkan perhatian kepada oranglain dan
g.      Berbohong, bersumpah, mencuri serta menyalahkan oranglain.
Bukti lebih lanjut dari pengaruh kuat ADHD berasal dari data yang disiapkan oleh Profesor Russel Barkley dari hasil tiga penelitian yang dilakukan pada tahun 1977 tentang bagaimana anak ADHD jika dibandingkan dengan anak-anak lain, data tersebut ada pada tabel berikut :
Pola perilaku umum
Anak-anak ADHD (%)
Anak-anak Khusus (%)
Berdebat dengan orang dewasa
72
21
Menyalahkan orang lain untuk kesalahan sendiri
66
17
Bertindak mudah tersinggung atau mudah jengkel
71
20
Bersumpah
40
6
Berbohong
49
5
Mencuri
50
7
Keluar/kelulusan
Anak-anak ADHD (%)
Anak-anak Khusus (%)
Dikeluarkan sementara
60
18
Dikeluarkan secara tetap
14
5
Menyelesaikan sekolah
67
100
Kegiatan Seksual
Anak-anak ADHD (%)
Anak-anak Khusus (%)
Jumlah pasangan
18.5
6.5
Keluarga berencana yang digunakan
76
91
Penyakit yang ditularkan secara seksual
17
4
Kehamilan
41
4
Anak-anak yang berayah
38
1
Anak-anak yang tidak dirawat orangtua
52
-

Pengaruh ini berlaku terhadap individu dan orang-orang yang berada di sekitar kehidupan anak penderita ADHD, kita dapat lebih rinci pengaruh ADHD dalam tiga bidang diantaranya
a.       Pengaruh ADHD pada pendidikan
1)      Tidak dapat segera memulai
2)      Prestasi kurang
3)      Bekerja terlalu lambat/cepat
4)      Melupakan intruksi atau penjelasan
5)      Tidak melakukan tugas
6)      Selalu meninggalkan benda-benda sampai menit terakhir
7)      Selalu bingung
8)      Menangguhkan pekerjaan
9)      Motivasi yang kurang, mudah frustasi
10)  Kesulitan dalam menyelesaikan tugas dan
11)  Menghindari teman, berperilaku kacau

b.      Pengaruh ADHD pada perilaku
1)      Menuntut
2)      Turut campur dengan orang lain
3)      Mudah frustasi
4)      Kurang mengendalikan diri
5)      Tidak tenang/gelisah
6)      Lebih banyak bicara
7)      Suka menjadi pemimpin, mudah berubah pendirian
8)      Mengganggu, cenderung untuk mendapat kecelakaan, dan
9)      Mudah bingung, mengalami hari-hari baik dan buruk

c.       Pengaruh ADHD pada aspek sosial
1)      Mementingkan diri sendiri, egosentris
2)      Cemas, kasar, tidak peka
3)      Tidak dewasa, tertekan
4)      Harga diri rendah
5)      Keras/tenang, membuat ramai
6)      Tidak berpikir panjang
7)      Menarik diri dari kelompok
8)      Sering berperilaku tanpa perasaan, dan
9)      Tidak mau menunggu giliran
Akibatnya banyak para siswa dan orang dewasa lainnya melabeli anak ADHD dengan pelabelan yang negatif, anggapan  mereka terhadap anak ADHD antara lain mementingkan diri sendiri, egosentris, cemas, kasar, tidak peka, tidak dewasa, tertekan, harga diri rendah, keras/tenang, ramai dan ribut melulu, tidak berpikir, menarik diri, tanpa perasaan dan tidak mau bergantian

0 komentar:

Poskan Komentar