Pages

 

Minggu, 15 April 2012

Makna Sepakbola Bagi wanita

0 komentar

Inilah sisi feminin dari sepakbola yang maskulin
Andrea Hirata begitu cerdas menguak sisi ini. “Dugaan bahwa perempuan gila bola semata karena penampilan atraktif pemainnya, atau senang melihat kali-laki tampah bersimbah keringat, memakai celana yang lucu, berlepotan lumpur, berlari tunggang langgang, bertabrakan tertungging-tungging, lalu tersenyum manis ternyata keliru.

Bagi sebagian perempuan lapangan bola dan warna-warninya adalah lukisan, pertandingan bola bak konser, dengan pemain sebagai musisi dan para penonton bak backing vocal. Integritas pemain, daya juang, dan sportivitas, mereka perhatikan. Slogan, lagu-lagu penyemangat, dan pada iklan apa saja pemain kesayangannya telah tampil adalah detail yangs ering terlewatkan penonton pria.

Gol adalah penting tapi bukan ukuran kesetiaan mereka pada tim. Mereka mencari riwayat hidup pribadi pemain favorit. Mereka tahu soal teknis, misal off side, dan sebagainya tapi malas bicara soal itu. Mereka mencintai sebuah tim karena alasan-alasan yang lebih romantik dan intelek ketimbang sebuah gol. Mereka bangun dini hari, untuk menemani suami, anak-anak, atau saudara-saudara lelaki menonton bola dan merasa senang karena melihat kesenangan keluarga pada waktu yang aneh, pagi buta.

Semua hal ada dalam sepak bola. Terompet memekakkan, kembang api yang ditembakkan dan api suar yang dilambai-lambaikan dari atas pagar pembatas oleh kelaki kurus tak berbaju itu adalah perayaan kegembiraan. Bendera raksasa yang berkibar-kibar adalah psikologi. Mars penyemangat yang gegap gempita adalah seni. Orang-orang yang yang duduk di podium kehormatan-di tempat paling nyaman menonton bola-adalah politik dan orang-orang berdasi yang sibuk dengan telepon genggamnya di belakang jajaran politisi itu adalah bisnis.

Lelaki kurus tadi yang sehari-hari berdagang asong di gerbong kereta listrik bogor-Jakarta menabung lama demi membeli tiket menonton PSSI lalu teriak mendukung PSSI sampai habis suaranya hingga peluit panjang di bunyikan adalah keikhlasan. Para pemain menunduk untuk berdoa adalah agama. Penjaga gawang memeluk tiang gawang sebelum bertanding adalah budaya. Ratusan moncong kamera yang membidik lapangan adalah sejarah. Ayah yang membawa anak-anaknya untuk menonton bola adalah cinta. Bocah-bocah murid SD inpres dipinggiran bekasi yang patungan untuk menyewa angkot, berdesak-desakan dai dalam mobil omprengan demi mendukung PSSI adalah patriotisme. Catatan skor pada papan elektronik raksasa yang di tatap dengan perasaan senang yang meluap-luap atau kecemasan yang tak terperikana adalah sastra yang tak ada bandingannya. Menjadi penggila bola berarti menjadi bagaian dari keajaiban peradaban manusia. 

0 komentar:

Poskan Komentar