Pages

 

Rabu, 13 April 2011

biola tak berdawai

0 komentar
Dari awal saya bukanlah seorang yang sering membaca, mungkin karena dari kecil tidak ada yang menfasilitasi saya untuk membaca, semasa SMA saat teman-teman saya sibuk membaca buku-buku andrea hirata dan buku lainnya entahlah buku apa itu aku tak tahu, saya hanya sedikit tergoda itupun dengan alasan pamer, yah, aku telah membaca buku yang popular di tv dan semua orang membicarakannya, outputnya pun yaitu narsisme.. okelah..
Namun seketika saya membaca bukan dengan mata tapi dengan hati, buku demi buku dapat saya lahap hanya sekedar menyalurkan jiwa yang haus akan rangkaian kata-kata indah yang teragkai dalam sebuah buku.
Membaca dengan hati, bukan hanya melepas dahaga, tapi pencerah pandangan hidup tentang fenomena yang terjadi diluaran sana yang belum terjamah oleh raga dan jiwa kita tapi kita dapat merasakannya lewat tulisan orang-orang hebat hingga dalam memandang dunia tidak sempit namun luas komprehensif dan mendalam
Belum banyak buku yang aku baca tidak lebih dari 10 buku, namun aku begitu terhipnotis dengan aroma kertras, lembar demi lembar yang terlewati dengan senyuman puas kenikmatan batin yang terhadiahkan oleh lembaran-lembaran itu. Dan aku tahu pasti banyak lagi orang yang lebih terhipnotis dibanding aku sampai berurai airmata ketika tidak memiliki kesempatan untuk membaca buku yang selama ini dia incar.. waw…
Hari ini baru pertamakalinya saya ke lantai atas perpustakaan kampus dimana saya menimba ilmu, di lantai 2 ruang reserve aku dan senja memandangi begitu banyak judul dan sampul buku yang menggoda, dari buku rekomendasi lama teman yang belum aku baca, buku kekuatan-kekuatan cinta yang tokohnya sering aku tuliskan dalam bait suratku untuk kekasihku, buku best seller tebal yang sedang hangat dibicarakan sampailah pada buku dengan judul indah penuh filosofis dan aku tahu buku ini sudah lama dan buku ini dari scenario film yang mendapat 5 penghargaan di Indonesia. Sang pemimpi, Edensor, maryamah karpov, taj mahal, laila majnun, dan biola tak berdawai. Saat itu yang paling menggodaku adalah biola tak berdawai.. jadi apa maksudnya biola tak berdawai, karena takkan mungkin ada suara jika tak ada dawai, itulah kami yang memiliki cacat lebih dari satu tuna.
Saya baru sempat membaca buku itu sampai bagan 4, begitu menghipnotis mungkin jika para pecandu narkoba dapat diibaratkan sebagai nikotin yang membuat kecanduan.. sangat disayangkan buku yang dilantai dua tidak bisa dipinjam, sangat menjengkelkan dan sangat membuat emosi.. namun biarkan ini menjadi kerinduan, kerinduan yang manis dan indah…

0 komentar:

Poskan Komentar