Pages

 

Rabu, 13 April 2011

cacing dan kotoran kesayangannya 2

0 komentar
Mana mungkin dalam keadaanku sekarang aku terfikirkan untuk membeli buku mahal lalu untuk makan bagaimana? Ternyata rencana Allah memang maha dahsyat, walaupun karena aku membayar biaya observasi ke Jakarta yang membuat saya nunggak bayar listrik dan membuat saya harus meminjam uang untuk sehari-hari tetapi buku yang diberikan Cuma-Cuma oleh metro tv di acara kick andy, memberikan manfaat yang tepat ketika keresahan yang saya rasakan sekarang dapat terjawab dari allah melalui buku “sicacing” begitu teman-teman menyebutnya. Kedamaian batin tidak akan terbayarkan oleh apapun..
Kutipan
“jika, entah bagaimana, pembuat onar datang ke bisnis anda, keluarga anda, atau anda lahir bersama mereka, mereka anggota dari keluarga anda, atau anda jadi guru mereka, atau mereka muncul begitu saja dlam hidup anda, apa yang bisa anda lakukan? Ini adalah masalah yang setiap dari kita hadapi dari waktu kewaktu: berurusan dengan orang sulit
Bagaimana kita menangani hal ini? Nomor satu: terimalah bahwa orang sulit adalah bagian dari hidup. Alih-alih menjadi galau sendiri, “aku tak menginginkan ini…. Ini salah! Mengapa aku harus berurusan dengan ini? Mengapa harus saya?” ketimbang segala macam pemikiran negative yang bikin masalah tambah rumit, kadang kita cukup belajar cara hidup bersama orang sulit.
Ketika saya masih muda, ketika belum banyak buku spiritual terbit. Saya ingat akan seorang guru spiritual tua yang istimewa, ia tinggal di Pranci pada zaman perang dunia I dan II. Namanya Gurdjieff. Ia adalah seornag pemimpin komunitas spiritual kecil. Nah dalam komunitas itu ada satu oaring pembuat onar-orang yang begitu sulit diajak tinggal bersama. Semua anggota komunitas itu sering sekali mengeluh kepada guru mereka. “orang ini benar-benar bagaikan duri dalam daging. Dia tidak pernah bersih-bersih, selalu bikin rebut, makan semua yang enak-enak, benar-benar sulit dan egois, dia sama sekali tidak spiritual. Bolehkah kami mengusirnya? “Gurdjieff selalu mengatakan, “Tidak. Jangan. Belajarlah dari hal ini. Sabarlah milikilah batin yang lebih lapang dan berbelas kasih.”
Setiap orang mengeluhkan orang ini, namun Gurdjieff tidak pernah mengusirnya. Sampai setelah guru besar ini meninggal, ketika mereka menelusuri surat-surat dan berkas miliknya, mereka menemukan buku catatan keuangan komunitas itu. Setiap anggota komunitas itu membayar iuran agar bisa tinggal disana, namun dalam catatan itu si pembuat onar adalah satu-satunya yang bukan hanya tidak dibayar malah mendapat uang dari Gurdjieff! Ternyata dia adalah anggota komunitas yang dibayar oleh Gurdjieff untuk mengusik komunitasnya, membuat anggota kesal dan marah, untuk mengajari semua orang bagaimana menjadi lebih toleran.
Sangatlah mudah berdamai dan memiliki cinta kasih kepada orang-orang yang kita sukai. Namun ujian spiritual sejatinya adalah jika kita bisa memiliki belas kasih dan kedamaian terhadap hal-hal-terutama orang-orang-yang tidak kita sukai. Mudah saja menolerir orang baik, namun menolerir orang yang sulit? Itu baru perjuangan yang sebenarnya!
Itulah tantangannya. Itulah bagaimana kita bisa belajar dan berkembang. Jika kita belajar memiliki toleransi terhadap orang yang sulit, maka kita juga bisa menolelir berbagai kesulitan dalam hidup seperti penyakit, usia tua, kekecewaan, jatuhnya bursa saham, dan segala kesulitan lain. Semua ini karena hidup memang sulit.
Singkatnya, cara pertama menangani orang sulit adalah selalu ingat bahwa apa pun yang kita lakukan, betapapun kita berupaya dan berjuang, orang sulit akan selalu ada dalam hidup kita.
Selamat datang ke dunia! Ini bukan surga Bung!”
Buku ini indah karena lembut berhias estetika spiritual yang halus dan tulus, tanpa ancaman dogma keagamaan atau paksaan arogansi keimanan! –Jaya Suprana
Begitulah sebagian isi dari buku cacing dan kotoran kesayangannya 2 halaman 121 bagian 35.
Kejadian yang kerap membuat saya mengeluh berulang-ulang ternyata harus kita persepsi betul bahwa ini adalah bagian dari hidup. Bukan hal yang harus disesali, dikeluhkan, dimusuhi, malah capek sendiri.. tapi belajarlah darinya, belajarlah kehidupan karena hidup tidak selamanya akan baik dan menyenangkan justru hidup akan terasa hidup ketika kita dapat menghadapi dengan jantan (hah?) persoalan yang sulit.. belajarlah dari orang yang sulit, saya harus dapat belajar bagaimana bertoleransi terhadap orang yang sulit karena pada dasarnya manusia itu tidak ada yang buruk atau jahat mereka merupakan produk dari lingkungan.
Maka bukalah mata hatimu untuk menerima orang yang tidak menyamankan karena ini merupakan bagian jalan hidup, lalu apa yang harus kita lakukan? Hadapi dan Belajarlah darinya…
Terimakasih, semoga kita termasuk orang yang lebih sibuk memperbaiki diri.

0 komentar:

Poskan Komentar