Pages

 

Kamis, 21 April 2011

PENGARUH NEGATIVE HUBUNGAN INTERAKSI SOCIAL DALAM KELOMPOK TEMAN SEBAYA (GANG) DI SEKOLAH

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG


Sosiologi pendidikan merupakan ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan baik struktur, dinamika, masalah- masalah pendidikan atau aspek-aspek lainya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis. Sedangkan Antropologi adalah studi tentang umat manusia, yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan yang menjadi objek kajian antropologi adalah kebudayaan. Yang ruang lingkupnya
Sekolah merupakan system yang terstruktur, interaksi yang terjadi antar warga sekolah tentu tidak selamanya baik-baik saja, apalagi jika kita melihat fenomena-fenomena yang banyak terjadi di Negara Indonesia menganai perilaku menyimpang remaja di sekolah. Hal ini berpengaruh terhadap system sekolah dan yang paling besar pengaruhnya yaitu terhadap pribadi dan masa depan siswa itu sendiri
Dalam pergaulan remaja, kebutuhan untuk dapat diterima bagi setiap individu merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai mahluk sosial. Setiap anak yang memasuki usia remaja akan dihadapkan pada permasalahan penyesuaian sosial, yang diantaranya adalah problematika pergaulan teman sebaya. Pembentukan sikap, tingkah laku dan perilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh lingkungan ataupun teman-teman sebaya.
Dewasa ini banyak terjadi fenomena yang sangat miris terjadi pada remaja-remaja sekolah disekeliling kita, seperti yang dialami salah satu siswi di salah satu SMA Negeri di Garut yang merasakan pengaruh negative dari hubungan interaksi social dalam kelompok teman sebayanya
Dari latar belakang tersebut penulis tertarik untuk membahas pengaruh negative hubungan interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya di sekolah

B.     RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang diatas penulis dapat merumuskan masalah dalam pembahasan makalah ini, diantaranya
Bagaimana pengaruh negative hubungan interaksi social dalam kelompok teman sebaya di sekolah ?

C.    TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan diadakannya pembahasan ini adalah untuk mengetahui pengaruh negative negative hubungan interaksi social dalam kelompok teman sebaya di sekolah


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Interaksi Sosial

1.      Pengertian Interaksi social
Interaksi sosial adalah suatu  hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok.
Interaksi mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi  saling mempengaruhi baik positive ataupun negative
2.      Faktor- faktor yang mempengaruhi interaksi social
Menurut Gerungan (2000: 58) faktor- faktor ynag mempengaruhi interaksi sosial yaitu,
a.       Faktor Imitasi : Merupakan dorongan untuk meniru orang lain, misalnya dalam hal tingkah laku, mode pakaian dan lain- lain.
b.      Faktor Sugesti : Yaitu pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari orang lain.
c.       Faktor identifikasi : Merupakan suatu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain.
d.      Faktor Simpati : Merupakan suatu perasaan tertarik kepada orang lain. Interaksi sosial yang mendasarkan atas rasa simpati akan jauh lebih mendalam bila dibandingkan hanya berdasarkan sugesti atau imitasi saja.

Jika dorongan untuk meniru oranglain sangat kuat maka ini memungkinkan individu menggunakan interaksinya tersebut untuk melakukan cara apapun agar sama dengan temannya, atau adanya pengaruh-pengaruh negative dari oranglain yang langsung saja diterima tanpa filter yang kuat, dorongan untuk identik dengan oranglain. Interaksi ini akan sangat berpengaruh negative dan sekolah merupakan sumber utama interaksi sosial remaja karena di sekolah mereka bertemu dengan banyak orang seusia mereka.
3.      Bentuk- bentuk Interaksi Sosial
Menurut Park dan Burgess (Santosa,2004:12) bentuk interaksi social dapat berupa:
a.       Kerja sama
Kerja sama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerja sama Bantu membantu untuk mencapai tujuan bersama. Misal, gotong-royong membersihkan halaman sekolah.
b.      Persaingan
Persaingan adalah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok- kelompok berlomba meraih tujuan yang sama. Jika persaingan itu sportif maka ini akan menjadi interaksi yang positive tetapi jika persaingan sudah tidak sehat, akan banyak masalah yang muncul kepermukaan akibat dari persaingan tersebut dan efeknya bisa bermacam-macam
c.       Pertentangan.
Pertentangan adalah bentuk interaksi sosial yang berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.
d.      Persesuaian
Persesuaian ialah proses penyesuaian dimana orang-orang atau kelompok- kelompok yang sedang bertentangan bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut- larut dengan melakukan interaksi damai baik bersifat sementara maupun bersifat kekal. Selain itu akomodasi juga mempunyai arti yang lebih luas yaitu, penyesuaian antara orang yang satu dengan orang yang lain, antara seseorang dengan kelompok, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
e.       Perpaduan
Perpaduan adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok. Dan juga merupakan usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.
4.      Jenis- jenis Interaksi
Menurut Shaw (Ali,2004: 88) membedakan interaksi dalam menjadi tiga jenis, yaitu:
a.       Interaksi verbal. Interaksi verbal terjadi apabila dua orang atau lebih  melakukan kontak satu sama lain dengan menggunkan alat- alat artikulasi. Prosesnya terjadi dalam saling tukar percakapan satu sama lain.
b.      Interaksi fisik. Interaksi fisik terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa- bahasa tubuh.
c.       Interaksi emosional. Interaksi emosional terjadi manalaka individu malakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan.


B.     Kelompok Teman Sebaya

1.      Pengertian kelompok teman sebaya
Kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih yang saling berkaitan, berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam perilaku untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok teman sebaya adalah kelompok persahabatan yang mempunyai nilai- nilai dan pola hidup sendiri, di mana persahabatan dalam periode teman sebaya penting sekali karena merupakan dasar primer mewujudkan nilai- nilai dalam suatu kontak sosial. Jadi kelompok teman sebaya merupakan media bagi anak untuk mewujudkan nilai- nilai sosial tersendiri dalam melakukan prinsip kerjasama, tanggungjawab dan kompetisi.
2.      Hakekat kelompok teman sebaya
Anak berkembang di dalam dua dunia sosial:
a.       Dunia orang dewasa, yaitu orang tuanya, guru- gurunya dan sebagainya.
b.      Dunia teman sebaya, yaitu sahabat- sahabatnya, kelompok bermain, perkumpulan- perkumpulan.
Setiap kelompok memiliki peraturan- peraturanya sendiri, tersurat maupun tersirat, memiliki tata sosialnya sendiri, mempunyai harapan- harapannya sendiri bagi para anggotanya. Setiap kelompok sebaya juga mempunyai kebiasaan- kebiasaan, tradisi-tradisi, perilaku, bahkan bahasa sendiri. Kelompok sebaya merupakan lembaga sosialisasi yang penting disamping keluarga, sebab kelompok sebaya juga turut serta mengajarkan cara- cara hidup bermasyarakat. Biasanya anatar umur empat dan tujuh tahun dunia sosial anak mengalami perubahan secara radikal, dari dunia kecil yang berpusat di dalam keluarga ke dunia yang lebih luas yang berpusat pada kelompok sebaya. Anak cenderung merasa nyaman berada bersama- sama teman- teman sebayanya daripada berada bersama orang- orang dewasa, meskipun orang- orang dewasa tersebut bersikap menerima dan penuh pengertian.

3.      Macam- macam Kelompok teman sebaya
Menurut Hurlock (1999 : 215) ada beberapa lima macam kelompok teman sebaya dalam remaja, antara lain :
a.       Teman Dekat : Remaja biasanya mempunyai dua atau tiga orang teman dekat.
b.      Teman Kecil : Kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok teman- teman dekat.
c.       Kelompok Besar : Kelompok besar terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok teman dekat, berkembang dengan meningkatnya minat akan pesta dan berkencan. Karena kelompok ini besar maka penyesuaian minat berkurang di antara anggota- anggotanya sehingga terdapat jarak social yang lebih besar di antara mereka.
d.      Kelompok Terorganisasi : Kelompok pemuda yang dibina oleh orang dewasa, dibentuk oleh sekolah dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai kelompok besar. Banyak remaja yang mengikuti kelompok seperti ini merasa diatur dan berkurang minatnya ketika berusia 16- 17 tahun.
e.       Kelompok Gang : Remaja yang tidak termasuk kelompok besar dan tidak merasa puas dengan kelompok yang terorganisasi, mungkin akan mengikuti kelompok gang. Anggota biasanya terdiri dari anak- anak sejenis dan minat mereka melalui adalah untuk menghadapi penolakan teman- teman melalaui perilaku anti sosial.


BAB III
FENOMENA

Deskripsi cerita:
Nama saya Erna siswi di salah satu SMA Negeri di Garut
Awal saya masuk sekolah saya sudah dimusuhi oleh salah satu kelompok yang paling disegani di sekolah karena saya cantik dan banyak kakak tingkat yang suka sama saya.
Saya kerap dianiaya oleh mereka, di kata-katain, dijambak sampai di tendang, suatu ketika saya bernegosiasi dengan mereka untuk masuk ke kelompok mereka, karena saya tidak mau dimusuhi oleh mereka saya masuk ke kelompok mereka, sejak saat itu saya menjadi salah satu cewe modis, popular dan berkuasa disekolah, persahabatan kami sangat dekat kami sangat setia kawan,
Dari mereka saya nyoba-nyoba merokok, minum alcohol, taruhan dapetin pacar, bolos dari kelas, dan itu sangat menyenangkan, mereka sangat baik, setia kawan, suka ngejajain, saling pinjam baju. saat itu saya tidak merasa ada yang salah, saya senang saja diakui dan menjadi siswa popular di sekolah lagi pula mereka sangat baik.
Namun suatu ketika saya disuruh oleh ketua kelompok untuk melabrak teman dekat saya sebelum saya berteman dengan mereka.
Gara-gara saya teman dekat saya jadi menderita, dan saya juga menyadari ternyata selama ini saya diamanfaatkan oleh mereka, dari sana saya memutuskan untuk pindah sekolah


BAB IV
ANALISIS FENOMENA


Interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya bisa berpengaruh positive maunpun negative Fenomena interaksi social yang terjadi pada Erna menunjukan interaksi yang menyimpang, Dalam kelompok tersebut terjadi hubungan timbal balik lebih dari dua orang, mereka memainkan peran secara aktif. Jenis kelompok teman sebaya yang Erna alami yaitu jenis gang yaitu kelompok remaja yang tidak termasuk kelompok besar dan tidak merasa puas dengan kelompok yang terorganisasi, sehingga mereka mendirikan  kelompok gang. Anggota biasanya terdiri dari anak- anak sejenis dan minat mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman- teman melalui perilaku antisosial
            Gang memiliki sifat antisocial, mereka mengeklusifkan diri mereka dan bertindak seenaknya, mereka lebih suka memikirkan hal-hal yang dekat, terjangkau dan berbau senang-senang atau fun. Pada umumnya mereka ditolak oleh teman-teman yang lainnya maupun oleh masyarakat, sehingga mereka memiliki kohesivitas yang tinggi.
            Gang yang Erna ikuti merupakan kelompok wanita popular, paling cantik dan modis, dan menguasai sekolah sehingga ketika ada siswi baru yang lebih cantik dan menjadi popular lebih dari mereka, mereka tidak akan terima kemudian mereka berusaha membuat anak baru itu menderita.
Sebelumnya Erna menjadi korban kekerasan anggota gang tersebut namun pada akhirnya karena factor sugesti yaitu pengaruh psikis yang dirasakan oleh Erna, suatu perasaan tidak ingin diperlakukan tidak baik lagi sehingga dia menerima tawaran untuk bergabung dengan gang tersebut. ditengah-tengah dia merasakan kebahagiaan namun pada akhirnya dia menyadari bahwa interaksi tersebut berpengaruh negative terhadap dirinya.

Kasus Erna menunjukkan bahwa pengaruh negative interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya dalam hal ini gang, mengarah kepada perilaku menyimpang, karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku.
Dalam persahabatan dalam hal ini gang interaksi yang terjalin sangat begitu kuat karena didalamnya ada suatu system dan norma-norma kelompok yang mengatur, seperti harus mengerjai siswa baru yang blagu, ini sudah menjadi kesepakan bersama dan menjadi pemersatu, mereka sulit dipisahkan, individu yang keluar dari kelompok itu, maka dia akan mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat dan dari kelompoknya sendiri, justru dengan berkumpul dengan gangnya dia akan lebih percaya diri dan merasa ada yang melindungi.
Jadi pengaruh negative interaksi sosial dalam gang yaitu erat sekali akan terjadinya perilaku menyimpang yaitu kenakalan remaja. Remaja yang masuk ke dalam gang, dia akan terikat oleh norma-norma kelompok dan melakukan penyimpangan sebagai bentuk anti sosial
Teori sosiologi atau teori belajar memandang penyimpangan muncul dari konflik normatif di mana individu dan kelompok belajar norma-norma yang membolehkan penyimpangan dalam keadaan tertentu. Pembelajaran itu mungkin tidak kentara, misalnya saat orang belajar bahwa penyimpangan tidak mendapat hukuman. Tetapi pembelajaran itu bisa juga termasuk mangadopsi norma-norma dan nilai-nilai yang menetapkan penyimpangan diinginkan atau dibolehkan dalam keadaan tertentu..
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.  Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui  jalur tersebut berarti telah menyimpang.
Sangat terlihat bentuk penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial dari bahwa mereka kerap nyoba-nyoba merokok, minum alcohol, taruhan dapetin pacar, bolos dari kelas hal ini akan sangat membahayakan kondisi fisik dan psikis individu itu sendiri juga kelangsungan masa depan bangsa. Sekolah resah, masyarakat resah dan yang paling penting orangtua akan sangat sedih melihat perilaku anak-anaknya. Lebih bahaya lagi jika perilaku menyimpang tersebut  oleh masyarakat dianggap bukan perilaku menyimpang, melainkan hal yang biasa dan dibiarkan. Untuk itu perlu adanya upaya-upaya agar remaja Indonesia dapat menyalurkan minat dan kreativitasnya pada hal yang positive, dan bisa memanfaatkan interaksi dengan teman sebayanya secara positive sehingga hasil yang diperolehpun akan membanggakan dirinya dan orangtuanya, upaya tersebut diantaranya :
1.      Keluarga : keluarga adalah sumber pendidikan yang pertama dan utama, interaraksi sosial lebih banyak terjadi pada lingkungan keluarga, semakin meningkatnya keberfungsian sosial  sebuah keluarga dalam melaksanakan tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang, oleh karena itu perlu adanya hubungan interpersonal yang harmonis antara anak dan anggota keluarga lainnya, sikap permusuhan, iri hati, bertengkar atau kurang memperhatikan nilai-nilai moral, hal ini akan memicu terjadinya kenakalan remaja
2.      Sekolah : sekolah dapat menjadi menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi siswa, bagi remaja yang melakukan penyimpangan, sekolah akan menjadi tempat subur untuk melakukan aksinya, maka dari itu sekolah harus menerapkan nilai-nilai moral dan agama yang tinggi, interaksi sosial antar warga sekolahpun harus harmonis.
3.      Masyarakat : Dikatakan oleh (Eitzen, 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.


BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Pengaruh negative interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya (gang) di sekolah berkorelasi dengan perilaku menyimpang yaitu kenakalan remaja, maka pengaruh negative yang ditimbulkan oleh interaksi sosial dalam kelompok teman sebaya yang jenisnya gang adalah kenakalan remaja, bentuk kenakalan remaja bermacam-macam dan akibatnyapun bermacam-macam, sebagai mahluk sosial selain berpengaruh terhadap pelakunya sendiri juga berpengaruh terhadap system sekolah dan system masyarakat
      Kenakalan remaja lahir dari suatu system, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, keluarga yang tidak harmonis akan membuat remaja mencari pelarian, sekolah yang tidak menerapkan budaya normative dan disiplin yang baik maka sekolah akan menjadi tempat yang subur bagi kenakalan remaja, kemudian moral yang lemah di masyarakat akan membuat perilaku menyimpang sudah menjadi hal biasa. Maka dari itu iklim-iklim yang menjunjung tinggi nilai keharmonisan, normative dan moral harus sangat diperhatikan dan diterapkan bersama dalam suatu system sosial.

B.   SARAN

1.      Kepada pihak sekolah agar menciptakan interaksi sosial antara semua warga sekolah yang harmonis, menerapkan budaya normative serta disiplin yang baik. Ciptakan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA


Babam Suryaman (2010). Makalah Sosilogi Antropologi Pendidikan. [online], tersedia di : www.kosmaext2010.com. [19 April 2011]
Iwang (2010). Kenakalan Remaja Sebagai Perilaku Menyimpang Hubungannya Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga. [online]. Tersedia di : http://iwangeodrsgurusosiologismamuhammadiyah1tasikmalaya.yolasite.com/perilaku-menyimpang.php. [19 April 2011]
Iwang (2010). Teori-Teori Umum Tentang Perilaku Menyimpang. [online]. Tersedia di : http://iwangeodrsgurusosiologismamuhammadiyah1tasikmalaya.yolasite.com/perilaku-menyimpang.php. [19 April 2011]
Wani (2009). Makalah Sosilogi Antropologi Pendidikan http://wanipintar.blogspot.com/2009/06/makalah-sosiologi-pendidikan.html
Syamsu Yusuf (2008). Mental Hygiene. Bandung : Maestro
_______Keluarga, Teman Sebaya Dan Pendidikan . [online]. Tersedia di : http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_162.html [19 April 2011]
___________()Pengertian Interaksi Sosial. [online] Tersedia di : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/interaksi-sosial-definisi-bentuk-ciri.html. [19  April 2011]
Relawan YAI. (2007) Waspadai, Tekanan Teman Sebaya Menjerumuskan. [online] tersedia di : http://rafiqrokhanzen.wordpress.com/2007/12/14/waspadai-tekanan-teman-sebaya-menjerumuskan/ [ 19 April 2011]

0 komentar:

Poskan Komentar