Pages

 

Wednesday, March 7, 2012

BIMBINGAN DAN KONSELING PRIBADI SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK PENDERITA RABUN JAUH

0 comments

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Dalam interaksi pergaulan pendidikan yang terjadi di sekolah, tidak dapat terlepas dari masalah yang menyangkut pribadi dan sosialnya, factor penyebabnya sangat beragam diantaranya adalah karena masalah fisik, masalah fisik yang tidak sempurna membuat anak merasa tidak percaya diri dan kerap kali mengisolasi diri temannya, atau di jauhi oleh teman-temannya seperti yang terjadi pada anak yang menderita myopia di Taehbaruah, Padang, karena rabun jauh Ayu sempat tidak diterima di salah satu SD kota Taehbaruah dan sampai menginjak SMA dia tidak percaya diri dan kerap mengisolasi diri (Padang Express)  
Ketidaksempurnaan fisik (myopia) tidak seharusnya membuat anak merasa minder atau bahkan dijauhi oleh teman-temannya, karena ada cara untuk memaksimalkan penglihatan yaitu dengan memakai alat bantu penglihatan  baik itu kacamata atau soft lens, dan dukungan orang terdekat. Namun pada kenyataannya walaupun sudah memakai alat bantu penglihatan masih banyak anak-anak yang sering diejek, tidak disukai dan dijauhi karena masalah fisik tersebut juga tanpa dukungan dari orangtua anak menjadi semakin terisolir. Apabila ini dibiarkan maka perkembangan mental anak akan terhambat. oleh karena itu Bimbingan dan Konseling Pribadi social sangat diperlukan untuk memfasitasi perkembangan pribadi dan social siswa dan pengentasan masalah pribadi-sosialnya



B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana bimbingan dan konseling pribadi social untuk meningkatkan rasa percaya diri anak penderita rabun jauh?
2.      Bagaimana karakteristik anak usia Sekolah Dasar?
3.      Bagaimana perkembangan fisik anak usia sekolah dasar?
4.      Bagaimana analisis studi kasus terhadap anak penderita rabun jauh?

C.    TUJUAN PENULISAN

1.      Memperoleh bentuk bimbingan dan konseling pribadi social untuk meningkatkan rasa percaya diri anak penderita rabun jauh
5.      Mengetahui karakteristik anak usia Sekolah Dasar
6.      Mengetahui perkembangan fisik anak usia sekolah dasar
7.      Memperoleh analisis studi kasus terhadap anak penderita rabun jauh?



BAB II
KAJIAN TEORITIS

A.    KARAKTERISTIK SISWA SEKOLAH DASAR

Secara kronologis, murid SD pada umumnya berusia 6-13 tahun atau sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. awal masa ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga dan mulai memasuki lingkungan sekolah.
Setiap masa dalam rentang kehidupan, mempunyai ciri-ciri yang membedakan tahapan usia termasuk masa akhir kanak-kanak. berikut merupakan ciri anak usia sekolah dasar menurut Hulock (1980) yang mampu menunjukan perbedaan dengan masa sebelumnya, yaitu :
a.       Dorongan anak untuk masuk kedalam dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan otot-otot
b.      Dorongan anak untuk keluar dari lingkungan rumah dan masuk kedaalam kelompok sebaya atau peergroup
c.       Dorongan mental untuk mematuhi dunia konsep-konsep logika, symbol, dan komunikasi secara dewasa.
Hal ini menunjukan bahwa pada usia ini anak akan lebih banyak berinteraksi dengan oranglain. Loree (1970 dalam Rusli Ibrahim, 2001) dengan meneliti anak usia 5-16 tahun dan terus mengikuti perkembangannya selama beberapa tahun telah menunjukkan pola perilaku sosial anak adalah sebagai berikut:
a.       Kecenderungan perilaku sosial anak untuk menarik diri dari pergaulan sosial, atau memperluas pergaulan sosialnya.
b.      Pola kecenderungan perilaku sosial anak yang mudah bereaksi terhadap suatu kejadian, atau bersifat tenang.
c.       Pola kecenderungan perilaku sosial anak menjadi pasif atau dominan.
Jika seorang anak memperlihatkan orientasi sosialnya pada salah satu pola diatas maka kecenderungnanya akan diikutinya sampai dewasa.kecenderungan pola perilaku social anak tidak lepas dari factor-faktor yang mempengaruhinya salahsatunya adalah factor fisik, anak yang memiliki fisik yang ideal akan lebih percaya diri dibandingkan dengan anak yang memiliki keterbatasan fisik, dalam pencapaian perkembangan anak yang optimal ada beberapa tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui pada tiapfase usia. Menurut Havighurst (1972), tugas perkembangan anak usia sekolah (6 – 12 tahun) antara lain adalah :
1.      Belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya
2.      Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung
3.      Mengembangkan konsep-konsep penting dalam kehidupan sehari-hari
4.      Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan system nilai sebagai pedoman perilaku
5.      Belajar menjadi pribadi yang mandiri
Ditegaskan  Menurut Witherington (1952) yang dikemukakan Makmun (1995:50) bahwa usia 9-12 tahun memiliki ciri perkembangan sikap individualis sebagai tahap lanjut dari usia 6-9 tahun dengan cirri perkembangan sosial yang pesat. Pada tahapan ini anak/siswa berupaya semakin ingin mengenal siapa dirinya dengan membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Jika proses itu tanpa bimbingan, anak akan cenderung sukar beradaptasi dengan lingkungannya.

B.     PERKEMBANGAN FISIK ANAK

Pada masa ini keadaan fisik menjadi agak lambat tetapi keseimbangan mulai relative baik. berkembang pula koordinasi mata dan tangan yang diperlukan untuk membidik, menendang melempar dan menangkap. kematanga-kematanagn fisik dapat mempengaruhi keterampilan-keterampilan yang umumnya dimiliki anak usia sekolah dasar (Hurlock 1980:149), (1) keterampilan menolong diri sendiri, (2) keterampilan menolong oranglain, keterampilan sekolah dan (3) keterampilan bermain.
1.      Pengertian Mata
Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.
2.      Organ dalam mata dan fungsinya
Bagian-bagian pada organ mata bekerjasama mengantarkan cahaya dari sumbernya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bagian-bagian tersebut adalah:
a.       Kornea
Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber cahaya.
b.       Sklera
Merupakan bagian dinding mata yang berwarna putih. Tebalnya rata- rata 1 milimeter tetapi pada irensi otot, menebal menjadi 3 milimeter.
c.        Pupil dan iris
Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya.Iris berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.
d.       Lensa mata
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata akan menebal.
e.        Retina atau Selaput Jala
Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian retina yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf optik.
f.        Saraf optik
Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk menuju ke otak.

C.    Miopi (Rabun Jauh)

Miopi (dari bahasa Yunani: μυωπία myopia "penglihatan-dekat") atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata di mana citra yang dihasilkan berada di depan retina ketika akomodasi dalam keadaan santai. Miopi dapt terjadi karena bola mata yang terlalu panjang atau karena kelengkungan kornea yang terlalu besar sehingga cahaya yang masuk tidak difokuskan secara baik dan objek jauh tampak buram.[2] Penderita penyakit ini tidak dapat melihat jarak jauh dan dapat ditolong dengan menggunakan kacamata negatif (cekung).
1.      Penyebab
Penyebab miopia dapat bersifat keturunan (herediter), ketegangan visual atau faktor lingkungan. Faktor herediter pada miopi pengaruhnya lebih kecil dari faktor ketegangan visual. Terjadinya miopi lebih dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menggunakan penglihatannya, dalam hal ini seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau seseorang yang menghabiskan banyak waktunya dengan membaca tanpa istirahat akan lebih besar kemungkinannya untuk menderita miopi. Faktor lingkungan juga dapat memengaruhi misalnya pada rabun malam yang disebabkan oleh kesulitan mata untuk memfokuskan cahaya dan membesarnya pupil, keduanya karena kurangnya cahaya, menyebabkan cahaya yang masuk kedalam mata tidak difokuskan dengan baik. Dapat juga terjadi keadaan pseudo-miopi atau miopi palsu disebabkan ketegangan mata karena melakukan kerja jarak dekat dalam waktu yang lama. Penglihatan mata akan pulih setelah mata diistirahatkan.
2.      Diagnosis
Diagnosis miopi dapat ditegakkan dengan pemeriksaan visus dengan menggunakan optotipi Snellen dan foropter. Pemeriksaan visus akan menunjukkan ketajaman penglihatan dibawah 6/6. Dengan menyingkirkan diagnosis banding seperti hipermetropi dan astigmatisma, diagnosis miopi dapat ditegakkan.
3.      Perawatan
Pemakaian lensa kontak kacamata dengan lensa sferis negatif merupakan pilihan utama untuk mengembalikan penglihatan. Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK). Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision therapy).

D.    PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK

Perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial pada anak-anak SD ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah berkembang luas.
1.      Karakteristik Dan Ciri Tingkah Laku Sosial anak SD
Minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini:
a.       Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
b.      Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya.
c.       Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan
Menurut Hurlock mengemukakan ada beberapa pola perilaku dalam situasi sosial pada awal masa anak-anak yaitu sebagai berikut: kerja sama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan social, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, meniru, perilaku kedekatan.
2.      Tahapan Penerimaan Sosial
Perkembangan sosial yang di alami anak adalah proses penerimaan social. Berkenan dengan penerimaan sosial Elizabeth B. Hurlock (1978) mengemukakan beberapa tahapan (stage) dalam penerimaan kelompok teman sebaya adalah sebagai berikut:
a.      Reward Cost Stage
Pada stage ini ditandai adanya harapan yang sama, aktivitas yang sama dan kedekatan.
b.      Normative Stage
Pada stage ini ditandai oleh dimilik nilai yang sama, sikap terhadap aturan, dan sanksi yang diberikan biasanya terjadi pada anak kelas 4 dan 5.
c.       An Emphatic Stage
Pada Stage ini di miliknya pengertian, pembagian minat, self disclosure adanya kedekatan yang mulai mendalam di kelas 6.




3.      Bentuk-bentuk Perilaku Sosial Anak
Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak Usia SD/MI mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial, diantaranya:
a.       Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
b.      Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
c.       Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
d.      Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.


e.       Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. yaitu persaingan prestice (merasa ingin menjadi lebih dari orang lain).
f.       Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain.
g.      Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
h.      Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya
g.        Simpati (Sympathy)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.

E.     PERCAYA DIRI

1.    Teori tentang rasa percaya diri
Menurut Adler bahwa seseorang yang mempunyai perasaan rendah diri memiliki ketakutan yang mendasar akan kekurangannya yang dalam kenyataannya mungkin mendasar atau mungkin tidak. Dalam beberapa hal individu mengkonfersasikan perasaan rendah diri dengan berusaha keras mencapai cita-cita akan tujuan-tujuan yang mereka rasakan, bukan dikarenakan oleh kekurangan. Dalam banyak hal usaha keras tampak sebagai over kompensasi terhadap sesuatu yang tepat dan benar, didasari kerangka referensi dapat diatur kembali dengan kenyataan dan dapat menghasilkan yang lebih realistik.

2.    Pengertian Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/ situasi yang dihadapi (Rini, 2002). Beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu, dan percaya bahwa dia bias karena didukung oleh pengalaman, potensi actual, prestasi, serta harapan yang realistis terhadap diri sendiri.
Rasa percaya diri (self-confidence) adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Rasa percaya diri juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri (santrock, 2003:336).
3.    Perkembangan Kepercayaan Diri
a.    Pola asuh
          Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak dini dalam kehidupan bersama orang tua. Meskipun banyak factor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, namun factor pola asuh dan interaksi di usia dini merupakan factor yang mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri.
b.   Interaksi individu dengan lingkungan
          Kepercayaan diri berkembang melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan psikologis dan sosiologis kondusif akan menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Lingkungan psikologis dan sosiologis yang kondusif dengan suasana demokratis, yaitu adanya suasana penuh penerimaan, kepercayaan, rasa aman, dan kesempatan untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan.

4.      Ciri-ciri rasa percaya diri
                 Seorang individu yang memiliki kepercayaan diri akan memiliki ciri seperti yang dikemukan oleh Tina Afiatin dan Sri Mulyani (1998:67) sebagai berikut:
a.       Individu merasa yakin terhadap tindakan yang dilakukan. Hal ini didasari oleh adanya keyakinan terhadap kekuatan, kemampuan, dan ketrampilan yang dimiliki.
b.      Individu merasa diterima oleh kelompoknya. Hal ini didasari oleh adanya keyakinan terhadap kemampuannya dalam berhubungan social.
c.       Individu percaya sekali terhadap dirinya serta memiliki ketenangan sikap. Hal ini didasari oleh adanya keyakinan terhadap kekuatan dan kemampuannya.








BAB III
ANALISIS

A.    IDENTITAS SISWA

Nama               : Silvia Laeli Nursyarifah
Usia                 : 11 thn
Kelas               : VI
Sekolah           : SD Istiqomah Bandung
            Silvia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, saudaranya semua laki-laki. Ayahnya seorang guru dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Disekolah dia termasuk anak yang pintar dan rajin.

B.     DESKRIPSI MASALAH

Anak yang bernama Silvia ini memiliki kekurangan pada matanya, dia menderita myopia atau rabun jauh. Awal memasuki bangku kelas VI, Silvia mulai merasakan gejala pusing, pandangan menjadi buram, jika dipaksakan melihat kepala menjadi sangat pusing dan kerap kali meneteskan airmata. Setelah menyadari hal ini silvia langsung memberitahukan orangtuanya. Keesokan harinya orangtuanya membawa Silvia ke dokter untuk diperiksa dan hasilnya Silvia menderita rabun jauh dengan minus mata kanan 1,2+silindris dan minus mata kiri 1. Setelah sekian kali mencoba beberapa kacamata akhirnya Silvia memilih satu kacamata yang paling nyaman untuknya, sejak saat itu Silvia menjadi sering memakai kacamata walaupun terkadang suka dilepas karena masih belum bisa menerima kenyataan.
Menurut dokter hal yang menyebabkan Silvia menderita rabun jauh adalah karena dari kecil posisi badan saat belajar atau membaca yang biasa dilakukan silvia adalah salah yaitu tengkurap juga saat menonton tv. Menurutnya posisi tengkurap pada saat menbaca atau belajar dan saat menonton tv yang menyebabkan rabun jauh.
Vonis mata minus dan kenyataan harus memakai kacamata, diakui sangat menyenangkan karena merasa lebih keren dan gaya, tapi Silvia memiliki keinginan besar untuk sembuh, saat ini ia rutin memakan makanan yang terbuat dari wortel dari mulai jus wortel yang di mix dengan strawberry, pudding wortel bahkan sampai memakan wortel mentah. Hal ini tidak terlepas dari dukungan orangtua, orangtuanya sangat mendukung keinginan Silvia untuk sembuh, orangtuanya sangat menjaga pola makan Silvia dengan lebih banyak memberikan sayuran yang menyehatkan mata selain itu orangtua selalu mengingatkan agar tidak membaca dan menonton TV dengan posisi tengkurap.
Pertama memakai kacamata teman-teman banyak menggoda dengan mengatakan “wah, sekarang pake kacamata nih”, “ada ibu guru baru nih”, dll. Walaupun ada perasaan tidak enak tapi Silvia bersikap cuek menyikapinya. Ia merasa bahwa teman-temannya berangsur menjadi menjauh, hal ini karena imege orang yang memakai kacamata adalah orang yang pintar, kebanyakan teman-temannya menjadi segan terhadap Silvia namun masih tetap baik, hal ini tidak membuat semangat belajarnya menurun, Silvia semakin semangat untuk belajar dengan dukungan dari orang terdekat.
Selain orangtua, guru juga memberikan dorongan terutama saat pertama memakai kacamata, hal ini membuat Silvia percaya diri memakai kacamata, tapi menurutnya sembuh itu lebih baik.

C.    ANALISIS MASALAH

Perkembangan priabadi dan social anak usia sekolah dasar merupakan proses yang sangat menentukan bagi perkembangan pribadi dan social anak selanjutnya, anak yang kehilangan kepercayaan diri cenderung merasa / bersikap tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh sungguh, tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang), mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan, kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah, sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal), canggung dalam menghadapi orang, tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan, sering memiliki harapan yang tidak realistis, terlalu perfeksionis, terlalu sensitif (perasa) sebaliknya orang yang mempunyai kepercayaan diri bagus, mereka memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap kemampuan yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan perhitungannya.
Anak penderita rabun jauh ini merasa berbeda dengan teman-teman lainnya, begitupun teman-teman lainnya membuat jarak social karena orang berkacamata dinilai orang yang pintar dan tidka asik diajak bermain. Walaupun anak merasa tidak ada masalah namun kondisi ini dapat membuat anak kurang percaya diri karena tidak memiliki dukungan dari teman-temannya, pola seperti ini bisa berlanjur sampai remaja bahkan sampai anak masuk perguruan tinggi, anak akan terisolir dan dibeda-bedakan. Oleh karena itu sejak dini rasa percaya diri anak harus dikembangkan agar anak dapat menerima kekurangannya dan yakin akan kemampuan yang dimilikinya.

D.    Metode

Ada banyak teknik atau metode untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak, salah satunya adalah dengan bermain, Menurut Schaefer dan reid (1986: 11-13) bahwa terapi bermain memiliki keunggulan sebagai sarana diagnosis, kesenangan/ kegembiraan, mengandung unsure-unsur terapi, ekspresi diri, peningkatan ego dan pengetahuan sosialisasi. Lebih jauh Robyn Hromek menjelaskan manfaat terapi permainan diantaranya
Pertama, anak-anak ‘terjaga’ ketika berhadapan dengan prospek ‘bermain’. Mereka langsung terlibat dalam situasi sosial yang mengajarkan keterampilan saat mereka sedang bersenang-senang. Mereka yang akrab dengan unsur-unsur bermain seperti turn-taking, aturan menjaga, menang, kalah dan ko’operasi.
Kedua, sementara anak-anak secara aktif terlibat dengan proses bermain game, tantangan sosial dan emosional muncul saat mendidik ‘atau krisis terjadi, sehingga memberikan pengalaman belajar bermakna dengan segera.
Ketiga, terapi bermain anak-anak dengan menyediakan lingkungan yang aman untuk mempraktekkan keterampilan baru. Anak-anak merasa santai dan arus diskusi mudah dalam pengaturan ini.
Keempat, pengamatan klinis dapat dilakukan dan ditarik kesimpulan tentang anak-anak yang tidak meningkatkan penggunaan keterampilan prososial setelah pembelajaran ekstra dan pemanduan praktek. Adanya sindrom organik, masalah kesehatan mental atau masalah perlindungan anak perlu diselidiki.
Terapi ini sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar yang masih dalam tahap bermain. terapi interaksi sosial menyediakan kesempatan untuk belajar keterampilan sosial-emosional dan meningkatkan ketahanan emosional.
Silvia saat bermain teka-teki terlihat sangat gembira, ketika ia berhasil menyelesaikannya maka pembimbing memberikan pujian, pujian akan membuat anak merasa lebih termotivasi sehingga dia percaya diri untuk menyelesaikan teka-teki selanjutnya. Kami seharian bermain teka-teki, saat bermain teka-teki tidak lupa pembimbing memberikan kata-kata motivasi untuk memberikan dorongan agar lebih semangat belajar dan selalu focus terhadap potensi. Memfokuskan diri pada kelebihan dengan tidak terus-terusan memikiran kekurangan akan menumbuhkan konsep diri positif dan rasa percaya diri untuk menghadapi masa depan.



BAB IV
PENUTUP

A.      KESIMPULAN

Silvia menrupakan anak penderita rabun jauh, ia menderita rabun jauh sejak aawal masuk kelas VI. Keterbatasan fisik ini memunculkan berbagai masalah diantaranya adalah menurunkan rasa percaya diri. Kurangnya rasa percaya diri pada anak akan menyebabkan anak tidak mau mencoba suatu hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan, punya kecenderunganmelempar kesalahan pada orang lain, memiliki emosi yang  kaku dan  disembunyikan, mudah mengalami rasa frustrasi dan tertekan, meremehkan bakat dan kemampuannya sendiri, dan mudah terpengaruh orang lain. Jika ini dibiarkan anak tidak akan berkembang dengan baik dan akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya, dalam hal ini bimbingan dan konseling pribadi social di sekolah sangat berperan, salah satu metode yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar adalah metode bermain. Saat melakukan permainan teka-teki, Silvia merasa senang dan dengan pujian ia merasa lebih percaya diri.

B.       REKOMENDASI

Untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa yang menderita rabun jauh diperlukan kerjasama dari berbagai pihak diantaranya orangtua, guru, walikelas guru BK dan personel sekolah lainnya.  Orangtua yang memberikan pengertian dan perhatian penuh pada anak akan menumbuhkan rasa aman terhadap anak, ketika guru memberikan motivasi, peluang berinteraksi positif dengan teman-teman sebayanya anak akan semakin terfasilitasi dalam kehidupan sosialnya, guru BK memberikan perhatian dan layanan yang dapat mempererat persahabatan.  

0 comments:

Post a Comment