Pages

 

Rabu, 07 Maret 2012

KURIKULUM PEMBELAJARAN ATRAKTIF BERBASIS BIMBINGAN DAN KONSELING SEBAGAI SUATU INOVASI PENDIDIKAN DI PAUD

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan usaha terkendali untuk merubah perilaku serta sikap suatu individu ke arah yang lebih baik. Ini bermakna pendidikan adalah suatu aktivitas yang terencana dan dirancang untuk memberikan input kepada individu agar ia dapat mengembangkan kapasitas dan potensi dirinya. Maka diperlukan suatu tatanan atau sistem yang dapat mengatur pendidikan agar dapat diterapkan secara efektif yaitu kurikulum
Kurikulum PAUD haruslah kurikulum yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak seusianya, model pendidikan TK Atraktif adalah suatu model interaksi belajar mengajar yang diciptakan dan dikembangkan oleh guru sehingga terjadi interaksi yang atraktif (menarik, menyenangkan, merangsang, dan menantang). (Syaodih : http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK), teknik yang digunakan merupakan teknik yang berorientasi perkembangan, bimbingan merupakan upaya pemberian bantuan terhadap individu agar mencapai perkembangan yang optimal seperti yang dikatakan Nurihsan : 2006 “Pada dasarnya bimbingan merupakan upaya pemberian bantuan untuk membantu mengoptimalkan individu”. Dalam proses perkembangan individu tidak akan terlepas dari berbagai masalah baik itu berasal dari diri individu maupun dari lingkungan di luar individu, untuk itu perlu adanya layanan yang memfasilitasi masalah tersebut. ASCA dalam Nurihsan 2006 menjelaskan “konseling adalah hubungan tatapmuka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya. dalam memfasilitasi model pembelajaran tersebut maka diperlukan kurikulum yang dapat mengatur pendidikan agar dapat diterapkan secara efektif.


B.   RUMUSAN MASALAH

Pembahasan dalam makalah ini dibatasi dengan pertanyaan berikut :
1.    Apa yang dimaksud dengan kurikulum?
2.    Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran atraktif
3.    Apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling
4.    Bagaimana isi kurikulum pembelajaran atraktif berbasis bimbingan dan konseling?

C.   TUJUAN PENULISAN

1.    Memperoleh gambaran tentang pengertian kurikulum
2.    Memperoleh gambaran tentang model pembelajaran atraktif
3.    Memperoleh gambaran tentang bimbingan dan konseling
4.    Memperoleh kurikulum pembelajaran artaktif berbasis bimbingan dan konseling

D.   METODE PENULISAN

Metode penilisan makalah ini adalah dengan menggunakan study litelatur dan browsing internet.

E.    SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan makalah ini adalah BAB I PENDAHULUAN, BAB II ISI dan BAB III PENUTUP.





BAB II
ISI

A.   PENGERTIAN KURIKULUM

Popham dan baker yang dikutip oleh Dimyati dan Mujiono (2006;26), menjelaskan kurikulum adalah all planed learning outcomes for which the school is responsible. Ini berarti kurikulum dipandang sebagai hasil pembelajaran yang terencana, dimana sekolah bertanggung jawab atas proses dan hasil yang diraihnya.
Sementata itu Romine (1954:14) memberi penekanan lain pada aspek fleksibilitas ruang dan tempat dengan menyatakan “ curriculum is interpreted to mean all of the organized course, activity, and experiences which pupils have under the direction if the school, whether in the clasroom or not, dari pemaparan tersebut dapat diartika bahwa kurikulum tidak hanya terbatas pada aktivitas di ruang kelas saja, namun segala pengalaman dan pelajaran yang telah dikelola oleh pihak sekolah, baik itu diruang kelas maupun diluar kelas.
Pengertian lain dari KRUG (Dimyati dan mujiono 2006, 267) menjelaskan kurikulum adalah segala cara yang ditempuh sekolah untuk menyediakan siswa kesempatan agar mendapatkan pengalaman belajar yang hiharapkan.
Lebih luas Purwanto (2008;1) definisi segala aspek kehidupan dan lapangan hidup manusia dal;am masyarakat modern ini yang dapat dimasukan ke dalam tanggung jawab sekolah, yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan pribadi murid serta memberikan sumbangan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Hamalik 2008 :5 menarik benang merah bahwa pada hakikatnya kurikulum sebagai suatu program kegiatan terencana memiliki rentang yang cukup luas, hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh.
Nasution (2003:9) membagi dimensi kurkulum menjadi 4 aspek yaitu Kurikulum sebagai produk, kurikulum sebagai program, kurikulum sebagai materi yang akan dipelajari siswa dan kurikulum sebagai pengalaman siswa.

B.   KURIKULUM PEMBELAJARAN ATRAKTIF BERBASIS BIMBINGAN DAN KONSELING

Kurikulum ini dirancang dengan menggunakan asas-asas bimbingan dan konseling dan pendekatan layanan bimbingan dan konseling, materi yang dikembangkan yaitu materi pembelajaran atraktif.
Bimbingan dan Konseling memandang manusia sebagai individu yang sedang berkembang, memiliki potensi dan bersifat unik, ABKIN menjelaskan “konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menajdi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian”.
Kurikulum ini memiliki prinsip yang berkenaan dengan prinsip bimbingan konseling. Terdapat bberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fondasi bagi pelayanan bimbingan yaitu (1) bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua konseli, (2) bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi, (3) bimbingan menekankan hal yang positif, (4) bimbingn dan konseling merupakan usaha bersama, (5) pengambilan keputusan merupakan hak yang esensial dalam bimbingan dan konseling, (6) bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting kehidupan.
1.    Tujuan Kurikulum
Kurikulum ini bertujuan agar individu dapat Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan dimasa yang akan datang. Dalam hal ini individu diarahkan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangannya agar tidak mendapatkan hambatan pada pencapaian tugas-tugas perkembangan selanjutnya sesuai dengan karakteristiknya, karakteristik anak TK, Merujuk kepada aspek-aspek perkembangan anak yang meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, dan bahasa yang dikembangkan dengan prinsip bermain sambil belajar.
Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya dan Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat,  dengan menggunakan model-model pembelajaran atraktif yaitu Model Pembelajaran Suara, Bentuk dan Bilangan, Model Pembelajaran Spielformen, Model Pembelajaran Sentra, Model Pembelajaran Proyek.
Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan maupun masyarakat, ini ditandai dengan pendekatan konseling yang komprehensif artinay konseling tidak hanya dilakukan dengan siswanya saja tapi secara komprehensif berkolaborasi dengan orang tua siswa dan pihak-pihak lain yang terkait dalam pemecahan masalahnya.
2.    Sarana dan prasarana 
Dalam pelaksanaan pembelajaran tidak terpaku terhadap suasana kelas saja, proses pembelajaran bisa juga dilakukan di alam terbuka. Suasana ini harus dibangun seatraktif dengan penataan kelas yang hidup, alat-alat permainan educatif yang menunjang pembelajran harus tersedia lengkap.
3.    Materi pembelajaran
Hal ini berkaitan dengan model pembelajaran atraktif, model-model ini diantaranya
a.    Model Pembelajaran Suara, Bentuk dan Bilangan
Jenis model pembelajaran suara, bentuk dan bilangan ini berorientasi pada konsep yang dikemukakan oleh Johann Heindrich Pestalozzi yang beranggapan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan daya-daya jiwa yang dimiliki anak sehingga menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan negaranya. Pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik namun pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan anak menurut keadaan sesungguhnya ( kondratinya).
b.    Model Pembelajaran Spielformen
Model pembelajaran Spielformen berdasarkan konsep dasar dari Frobel, seorang pendiri Kindergarten. Frobel mengungkapkan bahwa mendidik pada hakekatnya adalah membangkitkan manusia sebagai makhluk yang sadar, berpikir dan mengerti sehingga dapat menterjemahkan hukum Tuhan di muka bumi. Pendidikan harus dimulai dari dalam diri anak dan tidak memaksakan dari luar ke dalam diri anak. Prinsip utama dari model pendidikan Frobel adalah pengembangan otoaktivitas (aktivitas yang berasal dari dalam) pada anak agar mau melaksanakan kegiatan belajar. Prinsip kedua adalah kebebasan atau suasana merdeka dalam kegiatan belajar mengajar sehingga anak dapat berkembang sesuai potensi masing-masing. Prinsip ketiga yang dikemukakan oleh Frobel adalah pengamatan dan peragaan (menyangkut seluruh indra) bai dari lingkungan fisik, sosial maupun keagamaan.
c.    Model Pembelajaran Sentra
Model pembelajaran sentra (dalton) berdasarkan pandangan dari Helen Parkhust. Pandangan dasar Helen tentang pendidikan adalah pengajaran harus disesuaikan dengann sifat dan keadaan inividu. Sehingga bahan pengajaran dan cara mengajar yang dilakukan oleh guru harus mengikuti dan memperhatikan tempo dan irama perkembangan setiap anak. Seorang anak akan menguasai berbagai bahan pengajaran tanpa merasa terhambat oleh kelebihan dan kekurangan anak lain. Bentuk pengajaran yang diterapkan pada model pembelajaran sentra merupakan keterpaduan antara bentuk membelajaran secara klasikal dan bentuk pembelajaran individual.
d.    Model Pembelajaran Proyek
Model pembelajaran proyek adalah model pembelajaran berdasarkan konsep dasar dari Kilpatrick. Secara harfiah, proyek mempunyai makna, maksud atau rencana. Dalam satu kegiatan pengajaran, proyek dibica-rakan antara guru dan murid secara bersama-sama dalam rangka me-mahami berbagai sendi-sendi dasar pengetahuan pada berbagai bidang pengembangan. Proyek adalah suatu model pembelajaran yang dilakukan guru dengan jalan menyajikan suatu bahan pengajaran yang memungkinkan murid mengolah sendiri untuk menguasai bahan pengajaran tersebut.
4.    Persyaratan umum TK Atraktif
Taman Kanak-kanak dapat dikatakan atraktif apabila memenuhi 3 persyaratan yang disebut sebagai 3 pilar utama.
Pilar pertama: Penataan lingkungan, baik di dalam maupun diluar kelas. Walaupun penataan lingkungan di TK sudah ada dalam buku pedoman sarana pendidikan TK. Namun bagi seorang guru yarrg kreafif, tidak ada sejengkal ruangan yang tidak bisa dijadikan sarana pengembangan anak. Segi penataan lingkungan di dalam kelas, setiap ruangan, mulai dari lantai, dinding, rak buku, jendela, sampai langit-langit dapat dibuat menjadi atraktif. Begitu juga segi penataan lingkungan di luar kelas, mulai dari pintu gerbang, jalan menuju kelas, tanaman hias, apotik hidup, kandang binatang ternak, saluran air, tempat sampah, papan pengumuman, ayunan, jungkitan, papan luncur sampai terowongan semuanya bisa dirancang atraktif. Contoh: Pintu gerbang- bisa dibentuk menjadi bentuk ikan hiu, harimau atau ayam.
Pilar kedua: Kegiatan bermain dan -alat permainan edukatif, Merancang, dan mengembangkan berbagai jenis alat permainan edukatif, bagi guru yang kreatif akan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar anak, misalnya terbuat dari koran, kardus, biji kacang hijau, batang korek api, lilin, gelas aqua dan sebagainya. Demikian pula pada kegiatan pengembangan kemampuan anak, akan dikemas oleh guru menjadi kegiatan yang menarik. dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), contohnya dalam pembukaan ada kegiatan brainstorming, dalam proses permainan ada kegiatan fun cooking, sandal making, story reading, atau story telling.
Pilar ketiga: Ada interaksi edukatif yang ditunjukkan guru. Guru TK harus memahami dan melaksanakan tindakan edukatif yang sesuai dengan usia perkembangan anak. Mulai dari. pembukaan kegiatan proses KBM sampai penutup kegiatan. Tindakan guru dapat dimulai dengan memberikan teladan, misalnya cara duduk, membuang sampah etika makan, berpakaian, berbicara dan sebagainya. Demikian pula cara bertindak, misalnya memberi pujian dan dorongan pada anak, menunjukkan kasih sayang dan perhatian hendaknya adil.
5.    Bentuk Layanan
a.    Layanan Dasar Bimbingan yaitu proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal.
b.    Layanan Responsif Bimbingan
Memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung tatap muka dengan guru dalam pengentasan masalah, guru menggunakan teknik konseling. Kolaborasi dengan wali kelas, personel sekolah lain dan orangtua anak
c.    Perencanaan Individual
Membantu anak memantapkan program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat dalam memotivasi belajar, emmbantu anak merencanakan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi
d.    Dukungan system
Melakukan kolaborasi dengan orangtua siswa, guru mata pelajaran, wali kelas, kepala sekolah, guru BK, dan personel sekolah lainnya. Melakukan kunjungan rumah

6.    Pelaksanaan
Pelaksaan pembelajaran merujuk kepada satuan layanan bimbngan dan konseling seperti dibawah ini
Satuan Layanan Kegiatan Bimbingan
Tema/ topik
Creative Shooping games
Waktu
1 kali pertemuan
1 x 45 menit
Sasaran
Siswa TK
Kompetensi
Pencapaian kematangan intelektual
Sub kompetensi
mengenal berbagai bentuk, warna dan ukuran
Indikator
Anak dapat mengelompokan bentuk
Tujuan
Anak mengenal bentuk, warna, ukuran dan Terampil berkomunikasi,
Strategi
Teknik
Bimbingan klasikal
Permainan 
Media
Aneka makanan (jika berkemasan disarankan kotaknya saja agar lebih ringan), kursi, bangku panjang dan meja
Langkah Layanan
-          Pembimbing menginformasikan kepada anak bahwa kita akan bermain amazing Shoping games (permainan berbelanja)
-          pembimbing menaruh makanan pada meja kemudian membuat jembatan dengan bangku panjang dan menaruh kursi didepan jembatan. pembimbing berperan sebagai ibu dan siswa berperan sebagai anak
-          pembimbing menyuruh anak untuk berbelanja dengan memberi clue berupa bentuk, ukuran dan warna.
-          refleksi
Evaluasi
Apakah anak mampu mengenal bentuk, ukuran, dan warna
Sumber rujukan
Belajar sambil bermain
Materi Layanan
Terlampir



Satuan Layanan Bimbingan
Tema/ topik
Telling my world
Waktu
1 kali pertemuan
1 x 45 menit
Sasaran
Siswa TK
Kompetensi
Pencapaian perkembangan berbahasa
Sub kompetensi
Anak mampu mendengarkan dan berkomunikasi secara lisan
Indikator
Anak dapat mendengarkan, memahami kata dan bercerita dengan kalimat sederhana
Tujuan
Anak Mendengarkan cerita dan menceritakan pengalamannya.
Strategi
Teknik
Bimbingan klasikal
Bercerita
Media
-
Langkah Layanan
-          Pembimbing menginformasikan kepada anak bahwa ibu akan bercerita
-          Pembimbing bercerita secara sederhana permainan yang disukainya
-          pembimbing menyuruh anak untuk bercerita permainan yang disukai anak
-          refleksi
Evaluasi
Apakah anak mampu mendengarkan dengan baik
Apakah anak mampu bercerita dengan kalimat sederhana
Sumber rujukan
-
Materi Layanan
Terlampir



Satuan Layanan Kegiatan Bimbingan

Tema/ topik
Mengenal nama dan fungsi tubuh dengan bernyanyi dan bergerak
Waktu
1 kali pertemuan
1 x 45 menit
Sasaran
Siswa TK
Kompetensi
Pencapaian kematangan perkembangan motorik
Sub kompetensi
Anak mampu mengenal nama bagian-bagian tubuhnya beserta fungsinya dan menyentuh bagian tubuh yang disebutkan dalam nyanyiannya
Indikator
Anak dapat mengidentifikasi fungsi-fungsi tubuh dan menyentuh dengan benar bagian tubuh yang disebutkan
Tujuan
Anak menyentuh bagian-bagian tubuhnya sambil bernyanyi dan menyebutkan nama tubuh beserta fungsinya
Strategi
Teknik
Bimbingan klasikal
Bernyanyi sambil bergerak
Media
-
Langkah Layanan
-          Pembimbing menginformasikan kepada anak bahwa kita akan bernyanyi
-          Pembimbing bernyanyi bersama sambil membantu anak menyentuh bagian tubuh yang dinyanyikan
-          refleksi
Evaluasi
Apakah anak mampu bernyanyi dengan baik?
Apakah anak mampu menyebutkan nama anggota tubuh beserta fungsinya ketika ditanya oleh pembimbing?
Sumber rujukan
-
Materi Layanan
Terlampir


C.   ANALSIS HAMBATAN

1.    Sumber daya manusia
Untuk merealisasikan kurikulum ini hambatan yang paling utama hambatan dalam bidang SDM, karena tidak semua guru PAUD yang memahami konsep bimbingan dan konseling, konsep bimbingan dan konseling dipahami dengan mendalam oleh mahasiswa lulusan jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan. Disamping itu guru harus dalam mendobrak pandangan yang sudah mengakar pada masyarakat yang menyatakan bahwa siswa PAUD yang pintar adalah siswa yang dapat menyelesaikan perhitungan matematika dan membaca cepat, hal ini jelas bertentangan dengan tugas-tugas perkembangan usia TK dan karakteristik anak TK. Disamping itu dewasa ini persyaratan untuk memasuki SD favorit haruslah mereka sudah pintar menbaca dan berhitung, guru ahrus bisa mensiasati ahl tersebut agar tidak bertentangan dengan konsep pembelajaran atraktif ini.
Dalam hal ini berarti perlu adanya pelatihan-pelatihan terhadap guru PAUD untuk memantapkan pemahaman konsep kurikulum ini dan terampil dalam pelaksanaan pembelajarannya dan prosesnya akan lama.

2.    Sarana prasarana
Bagi PAUD-PAUD yang sudah berkembang baik hal ini tidak menjadi hambatan, karena sekarang sudah banyak PAUD yang memiliki alat-alat permainan educatif dan tempat yang memadai. Namun bagi PAUD yang belum berkembang, penyediaan sarana dan prasarana ini akan menghambat penerapan kurikulum ini.

  1. Kebijakan teknis
Kurikulum PAUD telah memiliki kurikulum tersendiri dari Departemen Pendidikan Nasional, dalam hal ini perlu penyesuaian kembali antara kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dengan kurikulum Sekolah.
      Ranah guru yang mengajar di PAUD adalah guru lulusan dari PD PAUD namun dalam bimbingan dan konseling anak khsusunya untuk PAUD, proses bimbingan dan konseling include dengan pembelajaran jadi sebenarnya lulusan Bkpun bisa mengajar di PAUD. Namun saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah tentang kedudukan guru bimbingan dan konseling di PAUD seperti apa, bahkan kebanyakan PAUD mengangkat psikolog dalam penanganan masalah siswa.
Dalam buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional mengenai Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal ditegaskan bahwa posisi konselor di TK adalah sebagai Konselor Kunjung, namun pada kenyataannya sampai sekarang belum ada kejelasan tentang posisi konselor di PAUD.

D.   SOLUSI

Dalam pemahaman kurikulum ini secara menyeluruh maka perlu adanya pelatihan yang dilakukan terhadap guru-guru PAUD, selain itu dapat mengoptimalkan peran dan fungsi bimbingan dan kopnseling.
Kebutuhan pengembangan diri peserta ddiik nyaris sepenuhnya ditangani oleh guru Taman kanak-kanak sesuai dnegan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya, guru PAUD formal menggunakan spektrum karakteristik perkembangan peserta didik sebagai konteks permainan yang memicu perkembangan kepribadian peserta didik secara utuh. Namun demikian konselor dapat berperan secara produktif di jenjang taman Kanak-kanak bukan dengan memposisikannya sebagai fasilitator pengembangan peserta didik yang tidak jelas posisinya, melainkan dengan memposisikan sebagai konselor kunjung (Roving Counselor) yang diangkat pada tiap gugus sekolah untuk membantu guru taman kanak-kanak mengatasi prilaku mengganggu (Distruptif behavior)sesuai keperluan, antara lain dengan pendekatan Direct Behavioral Consultation. (ABKIN : 2008)
Karena peran Bimbinagn dan Konseling di TK include dengan kegiatan sekolah maka guru BK dapat menginformasikan kurikulum ini secara menyeluruh terhadap personel sekolah lainnya dan ikur serta dalam pembuatan kurikulum. Dengan hal tersebut kurikulum ini dapat dijalankan dengan baik.



BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN

Dalam pengimplementasian kurikulum pembelajaran atraktif berbasisi bimbingan dan konseling tidaklah mudah, butuh pemahaman semua pihak tentang apa dan bagaimana bimbingan dan konseling diterapkan sebagai bagian dari kurikulum PAUD  diperlukan peran bimbingan dan konseling di TK, sementara itu sampai saat ini posisi konselor di TK masih belum jelas. Kurikulum ini menggunakan landasan bimbingan dan konseling dan materi yang dsampaikan menggunakan model pembelajaran atraktif. Dengan melakukan pelatihan-pelatihan terhadap guru-guru TK tentang kurikulum ini akan memberikan pemahaman tentang kurikulum ini, namun ini akan sangat lama karena diperlukan pengawasan apakah pengimplementasian kurikulum dilakukan dengan baik atau tidak.
Solusi dari permasalahan ini adalah dengan melakukan pelatihan-pelatihan terhadap guru-guru TK dan memfasilitasi fungsi dan peran konselor di TK.

B.   REKOMENDASI

Kejelasan peran dan konteks kerja konselor di PAUD akan memudahkan dalam penerapan kurikulum ini. Perlu adanya perhatian khusus tentang status konselor di TK dan perhatian terhadap kurikulum PAUD yang selama ini belum sesuai dengan karakteristik anak usia TK, pengimplementasian kurikulum pembelajaran atraktif berbasis bimbingan dan konseling ini adalah kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa TK, sehingga siswa TK dapat beraktifitas sesuai dengan karakter seusianya.

0 komentar:

Poskan Komentar